Ketika daun cemara itu jatuh... Bait doa-ku pun bergegas turun... Menyentuh bumi.. Menggagas asa... Di tapak Ganjuran doaku bertelut, Menggeluti sebentuk berkah "Tuhan kabulkanlah doa kami..." (Ganjuran 17 april 2009)
Ada rasa pahit yang tertelan.. memenuhi hati yang retak... menetes dan getir... tanpa keluh ku terima getir yang menyengat ku persembahkan bersama tetesan keringat cinta kepadaMU
Tuhan kupeluk salibku... dengan gentar dan gemetar... aku siap dan mau Tuhan.. menerima kegetiran ini sebagai silihku Aku mencintaiMu Tuhan aku mencintaiMu...
Penghianatan itu luka... Getirnya melebihi kopi pahit... Pembodohan itu sakit... Lukanya menembusi nalar.. Karena penghianatan, Tuhanku dilukai... Karena pembodohan Tuhanku berada di puncak Golgota.... Ajari aku Tuhan untuk menerima kegetiran luka penghianatan sebagai bagian dari hidup... Ajari aku Tuhan untuk menerima sakit pembodohan yang menembus nalar sebagai bagian dari musibah... ajar aku bijaksana menghitung hari-hari kebahagiaanku yang senantiasa patut aku syukuri sebagai bagian dari hidupku... Let go.... Let God..... I will happy... I will strong.... I love You Lord.... (Denpasar, 27 July 2009 pk.03.54)
Ketika Firman hari ini dibacakan.. "Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu jangan halang-halangi mereka....." Aku menangis sepanjang Misa Kudus pagi ini.... Saya teringat kejadian Hari Senin malam yang lalu ketika kami para pendamping diundang rapat oleh Gereja.. Diakhir rapat waktu kami menanyakan tentang 'Ruang Serba Guna' yang baru selesai dibangun oleh Gereja, mulai kapan kami boleh menggunakannya? Karena kami sudah mengajukan surat permohonan untuk penggunaan Ruangan ini, sudah lebih dari 2 bulan yang lalu. Jawaban apa yang kami dapatkan? "Sudah diputuskan bersama oleh 'Gereja' bahwa ruangan ini hanya diperguankan untuk rapat-rapat saja dan pertemuan-pertemuan orang dewasa, karena pada kenyataannya anak-anak itu tukang bikin kotor.." Saya sungguh-sungguh terpukul dengan jawaban ajaib itu..... dan ketika seorang rekan kami menanyakan "... yang terhormat, seandainya yang pakai adalah anak Remaja yang tidak akan mengotori tembok apakah boleh?" ... berpikir lamaaaaa... dan jawaban yang keluar adalah "Tapi kalau sampai saya lihat ada coretan sekecil apapun... saya akan panggil para pendamping anak-anak ini, saya akan minta kamu mengecat ualang ruangan ini..." Oh my God, inikah Gereja kita? Setiap orang di dalam Gereja selalu mengatakan "Anak-anak ini penting, anak-anak ini masa depan Gereja...." mana buktinya? apakah itu hanya sebagai slogan kosong..... Saya kuatir suatu saat Gereja akan mengatakan "Berhubung Gerejanya harganya ratusan milyard jadi anak-anak yang tukang bikin kotor tidak diperbolehkan masuk ke dalam Gereja"... Betapa menyediiih kan.... Saya hendak sharing sebagai pembanding dan agar mata kita terbuka.... 1. Pada waktu saya menjadi Nara Sumber bersama seorang Pendeta Protestan dan seorang Ustad dari Muslim (pada sebuah pertemuan Komisi Kitab Suci Regio jawa yang dihadiri delegatus Kitab suci dari 7 Keuskupan.) apa yang pendeta itu sharingkan? Pendeta itu mengatakan bagaimana Gerejanya mati-matian mendekor, memberi fasilitas pada anak-anak dan Remaja, Mudika dengan Wi Fi, Hot spot dan semua peralatan serta ruangan bermain untuk mereka, agar mereka 'at home' dalam Gerejanya... demikian juga ustad itu mensharingkan hal-ahal yang nilainay sama.. bagaimana berharganya anak-anak dan remaja itu untuk mereka.... Betapa menyediiiih kan apa yang terjadi dalam Gereja kita... anak-anak dianggap tukang pembuat kotor yang mesti di jauhkan dari tempat2 yang baik... 2. Pada bulan Januari Tahun 2001, ketika Gereja mendatangi tempat tinggal saya dan mengatakan apakah bisa pinjam tempat untuk pembinaan iman anak-anak?... Saya dengan berdebar-debar kegirangan mengatakan.... "Oh siapakah saya ini? sehingga Tuhan boleh memakai tempat saya menjadi bagian di dalam pembinaan iman anak-anak" tak henti-hentinya saya mengucapkan syukur saya kepada Tuhan... kini sudah delapan tahun berjalan kami sudah mengecat ulang kelas-kelas kami selama 3 kali... dan kami tidak pernah sekalipun merasa anak-anak yang bikin kotor kelas-kelas ini... kami merasa bahwa karena dipakai ya sudah selayaknya di cat ulang berapa kalipun... semakin banyak orang yang memakai ruangan ini akan semakin menjadi berkat untuk banyak orang... 3. Ketika saya berkunjung ke sebuah paroki megah dan modern di kawasan kuta.. saya tercengang membacanya... ada sebuah ruang serba guna yang sangat bagus... dan di jendela kaca disebelah pintu ada tulisan di kertas berlaminating... "Khusus hari Minggu, Ruangan ini hanya digunakan untuk Pembinaan iman anak-anak (Temu SKAMI)"... saya menarik nafas dalam-dalam.... huuu Thanks Tuhan.. thanks... Betapa beruntungnya mereka (anak-anak) mempunyai orang-oarang yang care secara tindakan.... You are Great Lord...
Memang setiap orang berbeda cara pemikiran dan cara pandangnya ... saya tidak pernah sekalipun menuntut orang lain harus mempunyai cara pandang seperti saya maupun menuntut mereka menyetujui pemikiran saya.. Saya hanya sedih dan tidak tahu kemana harus mengadu... saya merasa sebatang kara dalam menagisi anak-anak ini...walaupaun saya tahu tidak... banyak teman-teman saya juga menangisi anak-anak Gereja... Anak-anak... kemana engkau akan ku bawa....??? disaat penteror-penteror sedang giat-giatnya merekrut anak-anak, memberiakan fasilitas pada anak-anak.... Oh Tuhan dengarlah tangisanku.... GEREJA dengarkanlah aku.... Denpasar, 15 Agustus 2009 Ibu Linda Wahjudi - Denpasar.. (Kalaupun semua diam tidak meneruskan gema ini... biarlah batu-batu di jalan dan pohon-pohon di tepian jalan ini yang akan meneruskan gemanya, Amin)
Ku temukan diriku Polos,bening,tanpa bentuk... Aku adalah aku... Bukan badanku... Bukan jiwaku dan bukan pula potretku Aku adalah sebuah keheningan Yang bebas tanpa kaca Tanpa ukuran, tanpa kegerahan Semua orang bisa melihat aku dan belajar dari padaku Aku senang menjadi diriku Yang menyatu dalam keberadaanNYA Thank you Lord... (Bandung,3 September 2009)