Denpasar, 26 Mei 2010
Dear Tress,
Seperti biasa, aku ingin cerita padamu akan sebuah 'kemajuan' yang aku alami. Memang tidak banyak, tapi cukup membuatku lebih semangat untuk belajar lebih giat dan menjadikan itu menjadi milikku.
Tress, beberapa tahun yang lalu, secara tidak sengaja aku berkenalan dengan seorang teman di Yahoo Messanger. Kami beberapa kali bertegur sapa, dan dia sering kirim beberapa tulisannya untuk saya kirimkan ke majalah di Paroki-ku.
Rupanya dia sedang mengambil kursus singkat di negara tetangga. Melalui beberapa kali percakapan, kami merasa menjadi teman satu dengan yang lain. Saling memberi informasi tentang pembinaan iman anak-anak di Paroki kami masing-masing. Dan saat itu, kami merasa gembira karena pertemanan yang positif itu.
Singkat cerita, tugas belajarnya selesai dan dia kembali ke daerahnya di Bali ini. Kami masih kadang-kadang saling menyapa, dia tetap sekali-sekali kirim tulisannya by email. Pernah juga tanpa sengaja kami bertemu di Denpasar, dan kami masih saling menyapa dan dia dengan akrab pula menawarkan saya untuk melihat anak-anak di Parokinya di Daerah.
Hingga suatu hari dia dipindah tugaskan ke Denpasar. Sekali-kali meskipun sangat jarang kami masih pernah berjumpa dan pernah bekerja bersama dalam sebuah pertemuan Keuskupan. Dan setelah itu kami tidak pernah kontak lagi, hanya sekali-kali saling berkoment di FB masing-masing.
Beberapa bulan yang lalu, kembali dia ditugaskan di luar negeri untuk belajar. Mungkin karena proses belajar belum mulai, dia masih sering muncul di FB. Disinilah perasaan aneh yang selama ini tidak saya amati jadi saya rasakan. Setiap kali dia menulis status entah berupa renungan, entah berupa pengalaman lucu, kata-kata inspiratif ataupun hanya sekedar kata-kata sapaan, saya selalu berusaha untuk memberi koment di statusnya. Bukan untuk apa-apa Tress, saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya memberi support perjuangannya di negeri orang, sebagai saudara.
Tapi anehnya, TIDAK PERNAH SEKALI pun dia menanggapi koment-koment saya terhadap statusnya, PADAHAL dia SELALU menanggapi koment-koment orang lain (termasuk sahabat-sahabat saya) terhadap statusnya. Bahkan pernah saya mengomentari salah satu status seorang teman di FB, dan setelahnya dia juga memberi koment pada status teman itu, tapi dengan kata-kata yang melawan kata-kata dalam komentar saya.
Pertama saya merasa ya biasa saja Tress. Saya pikir mungkin komentku, atau sapaanku tidak sesuai dengan cara pandangnya. Atau mungkin koment-komentku pada statusnya yang setiap hari saya berikan itu kurang menarik dan biasa saja. Jadi tidak saya jadikan masalah.
Tapi lama-lama sebagai manusia biasa, kok aku merasa nda nyaman juga ya Tres? Terlintas di pikiranku "Ada apa sebenernya? Apakah aku pernah buat salah padanya? Apakah mungkin ada kata-kata saya yang pernah membuatnya tidak nyaman? Mengapa dia seperti tidak mengenal saya? Meng-ignore saya? Bakan kadang-kadang seperti ‘menyindir’ komentar-komentar saya?” “Ataukah mungkin ada cerita-cerita yang kurang baik tentang saya yang di’bisikkan’ seseorang? Ataukah karena dia merasa aku tidak pantas berteman dengan dia?” Ya Tress pertanyaan-pertanyaan yang tidak positif seperti inilah yang berkecamuk di benakku, di perasaanku.
Tapi untunglah Tress, barusan ini saya ikut pelatihan NLP selama tujuh hari penuh. Dan kini saya sedang belajar untuk menerapkan ilmu yang saya dapatkan itu dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya hendak menjadi tuan untuk hidup saya sendiri, dengan mencoba selalu memasukkan hal yang baik, hal yang menumbuhkan, sesuai dengan yang saya inginkan setiap saat dalam hidup saya.
Saya tidak mau ‘menelan’ mentah-mentah stimulus apapun yang saya dapatkan dari luar diri saya. Tapi saya akan mengolah stimulus itu dan menjadikan hal-hal yang menyenangkan bagi diri saya sendiri. Jadi yang saat ini saya lakukan adalah mengolah perasaan tidak nyaman dan ditolak yang saya rasakan itu menjadi suatu tindakan pro aktif yang membangun.
Pertama yang saya lakukan adalah mencoba meyapanya dengan kata-kata sapaan yang bersahabat di chattingan FB. “ Selamat pagi, siang, sore, malam….. bla bla bla.. dsbnya” dengan perasaan yang sangat tulus. Dan sapaan saya ini sama sekali tidak ditanggapi, di‘ignore’ begitu saja… (Hehehehe… Kasihan deh saya… Saya tidak marah, tapi malah mentertawakan diri saya sendiri Tress… hahaha…)
Setelah usaha pertamaku gagal total, aku pakai jurus ke dua yang tidak kalah tulusnya. Kali ini saya coba menyapanya di inbox, tetap dengan sapaan-sapaan yang positif dan bersahabat, memberi dukungan pada proses belajar yang dia perjuangkan di negeri sana. Tapi rupanya nasibnya juga seperti usaha saya yang pertama, tetap sampai hari ini tidak ditanggapi juga… (Hehehe… “Awas ya Tress.. kamu jangan ikut nertawain saya ya…” nanti saya jadi nangis niiih.. malu… dan merasa ditolak…)
Inilah Tress yang saya sebut dengan ‘kemajuan’ yang saya alami. Saya sama sekali tidak merasakan marah atau terluka…. Jujur, merasa sedih iya juga… ada sedikitlah perasaan kecewa dan prihatin.. Tapi yang saya seneng, perasaan itu tidak mengganggu saya dalam bekerja. Dan yang paling menyenangkan bagi saya adalah: Sampai pagi ini, saya tetap selalu menyapanya melalui status yang dia tulis… tanpa merasa terbeban. Hehehe.. mungkin orang pikir saya ini ndableg ya Tress… muka tembok kale….hahaha…
Tress saya merasa senang sekali Tress mengalami semua ini, inilah ‘kebebasan’ sejati yang saya impikan. Dimana saya tidak perlu bereaksi terhadap keadaan. Tapi saya bereaksi terhadap apa yang saya mau, saya ingin menyapa ya saya sapa saja, tanpa memikirkan dia mau membalas atau tidak membalas sapaan saya. Saya benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Apakah engkau bisa merasakannya Tress?
Saya merasa Tuhan begitu luar biasa melatih saya dengan hal yang luar biasa ini. Mungkin ini adalah salah satu jawaban dari doa Rosario pembebasan yang saya daraskan ya Tress.. Saya merasa berkat yang luaaaar biasa hebatnya bisa menjadi ‘tuan’ untuk diri saya sendiri. Saya tidak lagi ditentukan oleh sikap orang pada saya Tress, tapi saya bisa menjadi penentu sikap apa yang ingin saya lakukan. Sungguh-sungguh nikmat Tress menjadi orang yang ‘bebas merdeka’ Walaupun ini semua masih merupakan pembelajaran bagi saya. Saya juga ingin mengajakmu belajar dan berlatih bersama saya juga dalam mengolah hidupmu sehari-hari Tress.
Oke Tress.. thanks ya non, kamu sudah mau mendengarkan sharring saya ini. Doa dan supportmu sangat saya butuhkan untuk saya bisa tetap bertekun mengolah diri menjadi orang yang lebih baik.
Byee tress… see you ya..
Salam Soen sayang selalu untukmu sahabat
Dariku:
Linda
Sabtu, 25 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar