Aku lagi sedih niih
Aku merasa tak berteman
hanya berjuang sendiri bersama teman-teman kecilku
tak ada yang mengerti kami..
Dari Minggu Palma, Kamis putih, Jum'at Agung, Sabtu suci dan Minggu Paskah
perayaan liturgi di Gereja kita sungguh tidak bersahabat untuk anak-anak
Panjang dan melelahkan untuk anak seumur mereka
Mereka jauh dari kata mengerti apa yang terjadi di Altar sana
yang mereka mengerti hanyalah kebosanan dan kelelahan
harus duduk diam berjam-jam tanpa berbuat dan mengerti apa-apa..
Akhirnya... mereka mulai gelisah dan rewel..
yang ada hanyalah bentakan dan cubitan dari mama papa-nya
supaya mereka tetap diam dan khidmat mengikuti peribadahan sampai selesai
"Paskah" bagi mereka adalah sebuah kata yang menakutkan
Hanya ada kebosanan, kegelisahan dan omelan
Aku ingin mengubah image "Paskah" di hati anak-anak..
dari sebuah kesengsaraan menjadi sebuah kegembiraan
Akankah ada yang mengerti?
Kalau aku menangis saat ini
Aku tahu Tuhan melihat dan mengerti apa yang kutangisi
aku hanya bisa bertelut dan mengeluh pada Tuhan
Aku juga bisa menulis pada dinding fb ku sebagai tempat curahan kesedihanku
Jiwaku berteriak pada dinding yang bisu
"Kenapa membagi angpao untuk anak-anak di dalam Gereja boleh?
Tapi membagi telur Paskah di basement nda boleh?"
Kalau telur Paskah dibilang tidak liturgis, apakah angpao termasuk yang liturgis?
Kalau angpao didapat dari sumbangan para dermawan boleh,
kenapa telur yang kami kumpulkan dari para dermawan tidak boleh?"
Semuanya hanya dengan SATU alasan
"Sudah ...kesepakatan dewan & Pastor paroki, pesta anak hanya setahun sekali"
'Kesepakatan' seperti apa?
Ketika mengambil kesepakatan itu
kenapa tidak mendengarrkan suara anak-anak lebih dahulu?
Bukankah anak-anak itu juga bagian dari Umat?
Kepada siapakah jeritanku akan sampai?
Pada ruang-ruang hampa dan kosong?
Pada bukit-bukit batu yang tak bernyawa?
Wahai angin yang bertiup..
sampaikanlah jeritanku bersama kawan-kawan kecilku
kepada Tuhan Allah yang di Surga
Kepada Sang empunya jagat Raya ini
karena aku tahu
Hanya DIAlah yang paling mengerti dan mencintai yang kecil
Hanya DIAlah yang memberi penghargaan yang tertinggi bagi sahabat kecilku
sebagai "PEMILIK KERAJAAN SURGA'
dan air mataku pun sudah banjir membasahi lantai Altar Tuhan
Denpasar, 11 Maret 2010
Aku merasa tak berteman
hanya berjuang sendiri bersama teman-teman kecilku
tak ada yang mengerti kami..
Dari Minggu Palma, Kamis putih, Jum'at Agung, Sabtu suci dan Minggu Paskah
perayaan liturgi di Gereja kita sungguh tidak bersahabat untuk anak-anak
Panjang dan melelahkan untuk anak seumur mereka
Mereka jauh dari kata mengerti apa yang terjadi di Altar sana
yang mereka mengerti hanyalah kebosanan dan kelelahan
harus duduk diam berjam-jam tanpa berbuat dan mengerti apa-apa..
Akhirnya... mereka mulai gelisah dan rewel..
yang ada hanyalah bentakan dan cubitan dari mama papa-nya
supaya mereka tetap diam dan khidmat mengikuti peribadahan sampai selesai
"Paskah" bagi mereka adalah sebuah kata yang menakutkan
Hanya ada kebosanan, kegelisahan dan omelan
Aku ingin mengubah image "Paskah" di hati anak-anak..
dari sebuah kesengsaraan menjadi sebuah kegembiraan
Akankah ada yang mengerti?
Kalau aku menangis saat ini
Aku tahu Tuhan melihat dan mengerti apa yang kutangisi
aku hanya bisa bertelut dan mengeluh pada Tuhan
Aku juga bisa menulis pada dinding fb ku sebagai tempat curahan kesedihanku
Jiwaku berteriak pada dinding yang bisu
"Kenapa membagi angpao untuk anak-anak di dalam Gereja boleh?
Tapi membagi telur Paskah di basement nda boleh?"
Kalau telur Paskah dibilang tidak liturgis, apakah angpao termasuk yang liturgis?
Kalau angpao didapat dari sumbangan para dermawan boleh,
kenapa telur yang kami kumpulkan dari para dermawan tidak boleh?"
Semuanya hanya dengan SATU alasan
"Sudah ...kesepakatan dewan & Pastor paroki, pesta anak hanya setahun sekali"
'Kesepakatan' seperti apa?
Ketika mengambil kesepakatan itu
kenapa tidak mendengarrkan suara anak-anak lebih dahulu?
Bukankah anak-anak itu juga bagian dari Umat?
Kepada siapakah jeritanku akan sampai?
Pada ruang-ruang hampa dan kosong?
Pada bukit-bukit batu yang tak bernyawa?
Wahai angin yang bertiup..
sampaikanlah jeritanku bersama kawan-kawan kecilku
kepada Tuhan Allah yang di Surga
Kepada Sang empunya jagat Raya ini
karena aku tahu
Hanya DIAlah yang paling mengerti dan mencintai yang kecil
Hanya DIAlah yang memberi penghargaan yang tertinggi bagi sahabat kecilku
sebagai "PEMILIK KERAJAAN SURGA'
dan air mataku pun sudah banjir membasahi lantai Altar Tuhan
Denpasar, 11 Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar