Sabtu, 25 September 2010

KETIKA DOA ITU LURUH DI CANDI-MU

Ketika daun cemara itu jatuh...
Bait doa-ku pun bergegas turun...
Menyentuh bumi..
Menggagas asa...
Di tapak Ganjuran doaku bertelut,
Menggeluti sebentuk berkah
"Tuhan kabulkanlah doa kami..."
(Ganjuran 17 april 2009)

KETIKA PAHIT ITU BEGITU KENTAL

Ada rasa pahit yang tertelan..
memenuhi hati yang retak...
menetes dan getir...
tanpa keluh ku terima getir yang menyengat
ku persembahkan bersama tetesan keringat cinta kepadaMU

Tuhan kupeluk salibku...
dengan gentar dan gemetar...
aku siap dan mau Tuhan..
menerima kegetiran ini sebagai silihku
Aku mencintaiMu Tuhan
aku mencintaiMu...

Denpasar, 20 July 2009

HARI-HARI KEBAHAGIAAN-KU

Penghianatan itu luka...
Getirnya melebihi kopi pahit...
Pembodohan itu sakit...
Lukanya menembusi nalar..
Karena penghianatan, Tuhanku dilukai...
Karena pembodohan Tuhanku berada di puncak Golgota....
Ajari aku Tuhan untuk menerima
kegetiran luka penghianatan sebagai bagian dari hidup...
Ajari aku Tuhan untuk menerima
sakit pembodohan yang menembus nalar sebagai bagian dari musibah...
ajar aku bijaksana menghitung hari-hari kebahagiaanku
yang senantiasa patut aku syukuri
sebagai bagian dari hidupku...
Let go.... Let God.....
I will happy... I will strong....
I love You Lord....
(Denpasar, 27 July 2009 pk.03.54)

QUA FADIS ANAK-ANAK GEREJA?? (jeritan hati seorang pendamping anak-anak yang sudah 27 tahun melayani Anak-anak dalam Gereja) oleh Linda Wahjudi

Ketika Firman hari ini dibacakan.. "Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu jangan halang-halangi mereka....." Aku menangis sepanjang Misa Kudus pagi ini....
Saya teringat kejadian Hari Senin malam yang lalu ketika kami para pendamping diundang rapat oleh Gereja..
Diakhir rapat waktu kami menanyakan tentang 'Ruang Serba Guna' yang baru selesai dibangun oleh Gereja, mulai kapan kami boleh menggunakannya? Karena kami sudah mengajukan surat permohonan untuk penggunaan Ruangan ini, sudah lebih dari 2 bulan yang lalu. Jawaban apa yang kami dapatkan? "Sudah diputuskan bersama oleh 'Gereja' bahwa ruangan ini hanya diperguankan untuk rapat-rapat saja dan pertemuan-pertemuan orang dewasa, karena pada kenyataannya anak-anak itu tukang bikin kotor.." Saya sungguh-sungguh terpukul dengan jawaban ajaib itu..... dan ketika seorang rekan kami menanyakan "... yang terhormat, seandainya yang pakai adalah anak Remaja yang tidak akan mengotori tembok apakah boleh?" ... berpikir lamaaaaa... dan jawaban yang keluar adalah "Tapi kalau sampai saya lihat ada coretan sekecil apapun... saya akan panggil para pendamping anak-anak ini, saya akan minta kamu mengecat ualang ruangan ini..."
Oh my God, inikah Gereja kita? Setiap orang di dalam Gereja selalu mengatakan "Anak-anak ini penting, anak-anak ini masa depan Gereja...." mana buktinya? apakah itu hanya sebagai slogan kosong.....
Saya kuatir suatu saat Gereja akan mengatakan "Berhubung Gerejanya harganya ratusan milyard jadi anak-anak yang tukang bikin kotor tidak diperbolehkan masuk ke dalam Gereja"... Betapa menyediiih kan....
Saya hendak sharing sebagai pembanding dan agar mata kita terbuka....
1. Pada waktu saya menjadi Nara Sumber bersama seorang Pendeta Protestan dan seorang Ustad dari Muslim (pada sebuah pertemuan Komisi Kitab Suci Regio jawa yang dihadiri delegatus Kitab suci dari 7 Keuskupan.) apa yang pendeta itu sharingkan? Pendeta itu mengatakan bagaimana Gerejanya mati-matian mendekor, memberi fasilitas pada anak-anak dan Remaja, Mudika dengan Wi Fi, Hot spot dan semua peralatan serta ruangan bermain untuk mereka, agar mereka 'at home' dalam Gerejanya... demikian juga ustad itu mensharingkan hal-ahal yang nilainay sama.. bagaimana berharganya anak-anak dan remaja itu untuk mereka....
Betapa menyediiiih kan apa yang terjadi dalam Gereja kita... anak-anak dianggap tukang pembuat kotor yang mesti di jauhkan dari tempat2 yang baik...
2. Pada bulan Januari Tahun 2001, ketika Gereja mendatangi tempat tinggal saya dan mengatakan apakah bisa pinjam tempat untuk pembinaan iman anak-anak?... Saya dengan berdebar-debar kegirangan mengatakan.... "Oh siapakah saya ini? sehingga Tuhan boleh memakai tempat saya menjadi bagian di dalam pembinaan iman anak-anak" tak henti-hentinya saya mengucapkan syukur saya kepada Tuhan...
kini sudah delapan tahun berjalan kami sudah mengecat ulang kelas-kelas kami selama 3 kali... dan kami tidak pernah sekalipun merasa anak-anak yang bikin kotor kelas-kelas ini... kami merasa bahwa karena dipakai ya sudah selayaknya di cat ulang berapa kalipun... semakin banyak orang yang memakai ruangan ini akan semakin menjadi berkat untuk banyak orang...
3. Ketika saya berkunjung ke sebuah paroki megah dan modern di kawasan kuta.. saya tercengang membacanya... ada sebuah ruang serba guna yang sangat bagus... dan di jendela kaca disebelah pintu ada tulisan di kertas berlaminating... "Khusus hari Minggu, Ruangan ini hanya digunakan untuk Pembinaan iman anak-anak (Temu SKAMI)"... saya menarik nafas dalam-dalam.... huuu Thanks Tuhan.. thanks... Betapa beruntungnya mereka (anak-anak) mempunyai orang-oarang yang care secara tindakan.... You are Great Lord...

Memang setiap orang berbeda cara pemikiran dan cara pandangnya ... saya tidak pernah sekalipun menuntut orang lain harus mempunyai cara pandang seperti saya maupun menuntut mereka menyetujui pemikiran saya..
Saya hanya sedih dan tidak tahu kemana harus mengadu... saya merasa sebatang kara dalam menagisi anak-anak ini...walaupaun saya tahu tidak... banyak teman-teman saya juga menangisi anak-anak Gereja...
Anak-anak... kemana engkau akan ku bawa....??? disaat penteror-penteror sedang giat-giatnya merekrut anak-anak, memberiakan fasilitas pada anak-anak.... Oh Tuhan dengarlah tangisanku.... GEREJA dengarkanlah aku....
Denpasar, 15 Agustus 2009
Ibu Linda Wahjudi - Denpasar..
(Kalaupun semua diam tidak meneruskan gema ini... biarlah batu-batu di jalan dan pohon-pohon di tepian jalan ini yang akan meneruskan gemanya, Amin)

AKU

Ku temukan diriku
Polos,bening,tanpa bentuk...
Aku adalah aku...
Bukan badanku... Bukan jiwaku dan bukan pula potretku
Aku adalah sebuah keheningan
Yang bebas tanpa kaca
Tanpa ukuran, tanpa kegerahan
Semua orang bisa melihat aku dan belajar dari padaku
Aku senang menjadi diriku
Yang menyatu dalam keberadaanNYA
Thank you Lord...
(Bandung,3 September 2009)

KETIKA AKU SALAH MEMILIH

Ketika aku salah memilih..
Ada harga yang mesti ku bayar...
Sebuah kebekuan hati yang gentar dalam meniti sebuah komitmen usang...

Ketika aku salah memilih...
Ada bilur-bilur cambuk mendera hati kecil...
Aku menangis kesakitan menggenggamnya...

Ketika aku salah memilih...
Ada belenggu yang kau sediakan bagiku...
Kadang hanya rasa tak berdaya dan lelah

Ketika aku salah memilih...
Ada rasa muak dan marah yang kental
Melumuri hati yang berontak....

Dan ketika aku salah memilih...
Aku tahu ada Tuhan yang memelukku erat-erat
Dan membisikkan "jangan takut"

AKU INGIN BAHAGIA

Kata orang 'Bahagia' adalah sebuah pilihan
Dan saya ingin memilikinya...

Kata orang ambillah keputusan u/memilih 'bahagia' sebagai pilihan hidupmu
Dan saya ingin melakukannya...

Kadang saya begitu lelah..
Memegang keputusan untuk memilih 'bahagia' ditengah segala kesulitan ini

Tuhan aku tahu kebagiaan itu adalah sebuah kepasrahan diri kepadaMU ketika aku lelah...
Thanks Tuhan untuk sebuah kebagiaan ada bersamaMU...

KETIKA AKU TAHU

Ketika aku tahu...
Dan aku jadi mengenalmu...
Ketika aku tahu...
Dan aku jadi memaklumimu...
Ketika aku tahu...
Aku jadi mengertimu...
Dan ketika aku tahu...
Semakin bijaklah aku...
Dan aku semakin mencintai diriku apa adanya...
Betapa luar biasanya Tuhan menjadikan aku...
Thanks Tuhan...
Untuk cintaMU...

Denpasar, 2 maret 2010

SEMOGA PERTOLONGAN ITU DATANG

Aku lagi sedih niih
Aku merasa tak berteman
hanya berjuang sendiri bersama teman-teman kecilku
tak ada yang mengerti kami..

Dari Minggu Palma, Kamis putih, Jum'at Agung, Sabtu suci dan Minggu Paskah
perayaan liturgi di Gereja kita sungguh tidak bersahabat untuk anak-anak
Panjang dan melelahkan untuk anak seumur mereka
Mereka jauh dari kata mengerti apa yang terjadi di Altar sana
yang mereka mengerti hanyalah kebosanan dan kelelahan
harus duduk diam berjam-jam tanpa berbuat dan mengerti apa-apa..
Akhirnya... mereka mulai gelisah dan rewel..
yang ada hanyalah bentakan dan cubitan dari mama papa-nya
supaya mereka tetap diam dan khidmat mengikuti peribadahan sampai selesai
"Paskah" bagi mereka adalah sebuah kata yang menakutkan
Hanya ada kebosanan, kegelisahan dan omelan

Aku ingin mengubah image "Paskah" di hati anak-anak..
dari sebuah kesengsaraan menjadi sebuah kegembiraan
Akankah ada yang mengerti?

Kalau aku menangis saat ini
Aku tahu Tuhan melihat dan mengerti apa yang kutangisi
aku hanya bisa bertelut dan mengeluh pada Tuhan
Aku juga bisa menulis pada dinding fb ku sebagai tempat curahan kesedihanku

Jiwaku berteriak pada dinding yang bisu
"Kenapa membagi angpao untuk anak-anak di dalam Gereja boleh?
Tapi membagi telur Paskah di basement nda boleh?"
Kalau telur Paskah dibilang tidak liturgis, apakah angpao termasuk yang liturgis?
Kalau angpao didapat dari sumbangan para dermawan boleh,
kenapa telur yang kami kumpulkan dari para dermawan tidak boleh?"

Semuanya hanya dengan SATU alasan
"Sudah ...kesepakatan dewan & Pastor paroki, pesta anak hanya setahun sekali"
'Kesepakatan' seperti apa?
Ketika mengambil kesepakatan itu
kenapa tidak mendengarrkan suara anak-anak lebih dahulu?
Bukankah anak-anak itu juga bagian dari Umat?

Kepada siapakah jeritanku akan sampai?
Pada ruang-ruang hampa dan kosong?
Pada bukit-bukit batu yang tak bernyawa?

Wahai angin yang bertiup..
sampaikanlah jeritanku bersama kawan-kawan kecilku
kepada Tuhan Allah yang di Surga
Kepada Sang empunya jagat Raya ini
karena aku tahu
Hanya DIAlah yang paling mengerti dan mencintai yang kecil
Hanya DIAlah yang memberi penghargaan yang tertinggi bagi sahabat kecilku
sebagai "PEMILIK KERAJAAN SURGA'
dan air mataku pun sudah banjir membasahi lantai Altar Tuhan

Denpasar, 11 Maret 2010

SANG PENCINTA

Ketika kau tidak menyapaku..
Mungkin bukan karena engkau menolakku...
Ketika kau bersahabat dengan orang yang menyakitiku..
Mungkin bukan karena engkau memusuhiku...
Ketika kau tidak punya waktu lagi untukku...
mungkin bukan karena kau mau meninggalkanku...

Aku mencoba mempercayai sebuah perjalanan...
Aku mencoba mempercayai sebuah persahabatan..
yang diam tanpa suara..
'gema'nya akan sampai juga ke ujung bumi
tempat dimana Sang Cinta bertahta
dan aku yakin ada Sang pencinta disana
menungguku tanpa batas..
Cukup satu... tapi total...

Terimakasih cinta
dipenghujung waktu kau ada
tak lekang oleh waktu
tak pupus oleh senyum..
dan kau membisikkan
"Akulah sejatimu...
Tidak ada yang perlu kau risaukan lagi..
Tidak ada yang perlu kau takutkan lagi..
Biarlah mereka itu berlalu..
Biarlah mereka itu lenyap...
Mereka terlalu berhitung denganmu...
dan matematika mereka yang hanya sebatas pandang...
Cukup tanganku..
cukup kerapuhanku
yang akan membawamu
sampai pada Sang Cinta
yang kau mimpikan..."

(Denpasar 18 Maret 2010, untuk sahabat-sahabatku dan Sang Pencinta)

KAMU SAJA

Ketika pesta itu usai..
Ada tanda cinta yang tercecer...

Ketika pesta itu usai...
Ada gema yang tertinggal...

Dan Ketika pesta itu usai..
Hanya ada kamu saja yang tertinggal di hatiku...
(Denpasar 18 Maret 2010, di saat pesta sudah usai...)

SURAT UNTUK SAHABAT-KU 1

Denpasar, 2 April 2010

Dear Tress,
Aku menuliskan suratku ini, ketika aku baru saja selesai mengikuti ibadat Jum’at Agung di Parokiku... Seperti biasa Tress setiap tahun aku selalu duduk di halaman Gereja, karena Gerejaku sudah tidak dapat menampung lagi jumlah umat yang datang. Ya kamu tahulah, suasana di halaman Gereja kalau hari-hari besar seperti ini bukan hanya tidak khusuk, tapi lebih mirip seperti pasar. Orang bisa ngobrol, bermain HP, dari SMS-an sampai chatting dan fb-an. Mana kau tahu anak-anak kecil berteriak-teriak sambil berlari-lari kian kemari, persis seperti taman ria.
Udara panas jam tiga sore ikut menambah gerahnya suasana tadi. Aku ingin sekali sebenernya mengalami kesakralan dalam upacara-upacara besar seperti ini Tress, tapi mengapa terasa sulit sekali ya? Suasana hiruk pikuk ditambah gambar tentang suasana jalannya upacara di dalam Gereja yang dipertunjukkan layar TV 29 inci tidak cukup membuat konsentrasiku bisa lebih baik. Kilau-an sinar matahari yang masih sangat terik membuat gambar di layar televsi itu menjadi buram dan tertimpa bayangan-bayangan pepohonan di sekitar tempat aku duduk.
Tress, kadang aku merasa aneh dengan diriku sendiri, kenapa ya aku jauh lebih suka dengan suasana Misa harian yang sederhana, tanpa kemeriahan apa-apa, bahkan terkadang tidak bisa mendengar suara pemimpin Misa-nya karena tanpa bantuan sound sistem sama sekali, dan aku bisa mengalami kedekatan dan kehangatan Tuhan? Padahal kalau dipikir menurut ‘manusia’ harusnya perayaan-perayaan besar seperti ini akan mempunyai nilai iman dan sentuhan yang lebih dalam pada diri seseorang. Apakah ada yang salah dengan diriku ya Tress?
Tress, Aku juga mempunyai pandangan yang berbeda dengan kebanyakan teman-temanku yang terlibat di dalam kepengurusan di Paroki-ku ini. Mungkin karena aku orang yang hanya punya kemampuan yang sederhana dalam berpikir ya Tress... Dari beberpa tahun yang lalu, aku mengusulkan bahwa upacara-upacara besar seperti ini, jangan hanya diadakan satu kali saja. Sebenernya sih alasanku sangat ‘masuk akal’ (hehehehe.. ini menurut aku sih), dihitung dari ‘matematika dunia’ kapasitas daya tampung gedung Gerejaku dan jumlah umat yang datang pada hari-hari besar seperti ini, memang sudah tidak mencukupi. Kamu bisa bayangkan tidak, bila hari minggu biasa saja (yang bukan hari raya) Gereja-ku selalu membuat empat kali Misa di setiap Minggu (Satu kali Misa bahasa Inggris pada hari Sabtu sore dan tiga kali Misa di hari Minggu). Nah bagaimana mungkin untuk hari-hari penting Gereja, seperti ‘Rabu Abu’, ‘Kamis Putih’, ‘Jum’at Agung’ malah satu kali Misa/ ibadat saja?
Aku tidak tahu Tress mungkin memang akulah yang sangat naif, hanya mikir praktisnya saja tanpa memikirkan aspek liturginya. Ataukah mereka yang tidak mau berpikir lebih mendalam? Beberapa tahun yang lalu aku pernah memberikan artikel tentang bagaimana Upacara Jum’at agung dilakukan di beberapa Gereja di Eropah, mereka bisa mengadakannya pada malam hari, dengan pertimbangan disana hari ‘Jum’at Agung’ bukan hari libur nasional, jadi umatnya sebagian besar masih bekerja. Karena aku bukan seorang yang ahli liturgi, juga bukan berartia apa-apa dalam lingkup Gereja, jadi aku juga tidak berani ‘bersuara’ bahwa jangan terlalu dipaksakan harus jam tiga saat jam Yesus wafat, mungkin bisa diambil jam-jam lain juga diluar jam tiga, karena mengingat tempatnya sungguh sudah tidak cukup lagi.
Tress, cukup dulu ya surat saya ini. Saya akan menuliskan lebih banyak pengalaman hidup saya sehari-hari kepadamu.. siapa tahu nanti surat-surat ini bisa kau bukukan dan anak-anakku bisa membacanya sebagai kenangan dari maminya.
Thanks banyak ya Tress, jadilah engkau sahabatku, tempat dimana aku boleh cerita apa saja padamu tanpa merasa kau menyalahkan dan mengadili aku.. I Love You tress...

With my pray for you, Tress
Linda

TRESS, IS ME...

Denpasar, 26 Mei 2010
Dear Tress,
Seperti biasa, aku ingin cerita padamu akan sebuah 'kemajuan' yang aku alami. Memang tidak banyak, tapi cukup membuatku lebih semangat untuk belajar lebih giat dan menjadikan itu menjadi milikku.
Tress, beberapa tahun yang lalu, secara tidak sengaja aku berkenalan dengan seorang teman di Yahoo Messanger. Kami beberapa kali bertegur sapa, dan dia sering kirim beberapa tulisannya untuk saya kirimkan ke majalah di Paroki-ku.
Rupanya dia sedang mengambil kursus singkat di negara tetangga. Melalui beberapa kali percakapan, kami merasa menjadi teman satu dengan yang lain. Saling memberi informasi tentang pembinaan iman anak-anak di Paroki kami masing-masing. Dan saat itu, kami merasa gembira karena pertemanan yang positif itu.
Singkat cerita, tugas belajarnya selesai dan dia kembali ke daerahnya di Bali ini. Kami masih kadang-kadang saling menyapa, dia tetap sekali-sekali kirim tulisannya by email. Pernah juga tanpa sengaja kami bertemu di Denpasar, dan kami masih saling menyapa dan dia dengan akrab pula menawarkan saya untuk melihat anak-anak di Parokinya di Daerah.
Hingga suatu hari dia dipindah tugaskan ke Denpasar. Sekali-kali meskipun sangat jarang kami masih pernah berjumpa dan pernah bekerja bersama dalam sebuah pertemuan Keuskupan. Dan setelah itu kami tidak pernah kontak lagi, hanya sekali-kali saling berkoment di FB masing-masing.
Beberapa bulan yang lalu, kembali dia ditugaskan di luar negeri untuk belajar. Mungkin karena proses belajar belum mulai, dia masih sering muncul di FB. Disinilah perasaan aneh yang selama ini tidak saya amati jadi saya rasakan. Setiap kali dia menulis status entah berupa renungan, entah berupa pengalaman lucu, kata-kata inspiratif ataupun hanya sekedar kata-kata sapaan, saya selalu berusaha untuk memberi koment di statusnya. Bukan untuk apa-apa Tress, saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya memberi support perjuangannya di negeri orang, sebagai saudara.
Tapi anehnya, TIDAK PERNAH SEKALI pun dia menanggapi koment-koment saya terhadap statusnya, PADAHAL dia SELALU menanggapi koment-koment orang lain (termasuk sahabat-sahabat saya) terhadap statusnya. Bahkan pernah saya mengomentari salah satu status seorang teman di FB, dan setelahnya dia juga memberi koment pada status teman itu, tapi dengan kata-kata yang melawan kata-kata dalam komentar saya.
Pertama saya merasa ya biasa saja Tress. Saya pikir mungkin komentku, atau sapaanku tidak sesuai dengan cara pandangnya. Atau mungkin koment-komentku pada statusnya yang setiap hari saya berikan itu kurang menarik dan biasa saja. Jadi tidak saya jadikan masalah.
Tapi lama-lama sebagai manusia biasa, kok aku merasa nda nyaman juga ya Tres? Terlintas di pikiranku "Ada apa sebenernya? Apakah aku pernah buat salah padanya? Apakah mungkin ada kata-kata saya yang pernah membuatnya tidak nyaman? Mengapa dia seperti tidak mengenal saya? Meng-ignore saya? Bakan kadang-kadang seperti ‘menyindir’ komentar-komentar saya?” “Ataukah mungkin ada cerita-cerita yang kurang baik tentang saya yang di’bisikkan’ seseorang? Ataukah karena dia merasa aku tidak pantas berteman dengan dia?” Ya Tress pertanyaan-pertanyaan yang tidak positif seperti inilah yang berkecamuk di benakku, di perasaanku.
Tapi untunglah Tress, barusan ini saya ikut pelatihan NLP selama tujuh hari penuh. Dan kini saya sedang belajar untuk menerapkan ilmu yang saya dapatkan itu dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya hendak menjadi tuan untuk hidup saya sendiri, dengan mencoba selalu memasukkan hal yang baik, hal yang menumbuhkan, sesuai dengan yang saya inginkan setiap saat dalam hidup saya.
Saya tidak mau ‘menelan’ mentah-mentah stimulus apapun yang saya dapatkan dari luar diri saya. Tapi saya akan mengolah stimulus itu dan menjadikan hal-hal yang menyenangkan bagi diri saya sendiri. Jadi yang saat ini saya lakukan adalah mengolah perasaan tidak nyaman dan ditolak yang saya rasakan itu menjadi suatu tindakan pro aktif yang membangun.
Pertama yang saya lakukan adalah mencoba meyapanya dengan kata-kata sapaan yang bersahabat di chattingan FB. “ Selamat pagi, siang, sore, malam….. bla bla bla.. dsbnya” dengan perasaan yang sangat tulus. Dan sapaan saya ini sama sekali tidak ditanggapi, di‘ignore’ begitu saja… (Hehehehe… Kasihan deh saya… Saya tidak marah, tapi malah mentertawakan diri saya sendiri Tress… hahaha…)
Setelah usaha pertamaku gagal total, aku pakai jurus ke dua yang tidak kalah tulusnya. Kali ini saya coba menyapanya di inbox, tetap dengan sapaan-sapaan yang positif dan bersahabat, memberi dukungan pada proses belajar yang dia perjuangkan di negeri sana. Tapi rupanya nasibnya juga seperti usaha saya yang pertama, tetap sampai hari ini tidak ditanggapi juga… (Hehehe… “Awas ya Tress.. kamu jangan ikut nertawain saya ya…” nanti saya jadi nangis niiih.. malu… dan merasa ditolak…)
Inilah Tress yang saya sebut dengan ‘kemajuan’ yang saya alami. Saya sama sekali tidak merasakan marah atau terluka…. Jujur, merasa sedih iya juga… ada sedikitlah perasaan kecewa dan prihatin.. Tapi yang saya seneng, perasaan itu tidak mengganggu saya dalam bekerja. Dan yang paling menyenangkan bagi saya adalah: Sampai pagi ini, saya tetap selalu menyapanya melalui status yang dia tulis… tanpa merasa terbeban. Hehehe.. mungkin orang pikir saya ini ndableg ya Tress… muka tembok kale….hahaha…
Tress saya merasa senang sekali Tress mengalami semua ini, inilah ‘kebebasan’ sejati yang saya impikan. Dimana saya tidak perlu bereaksi terhadap keadaan. Tapi saya bereaksi terhadap apa yang saya mau, saya ingin menyapa ya saya sapa saja, tanpa memikirkan dia mau membalas atau tidak membalas sapaan saya. Saya benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Apakah engkau bisa merasakannya Tress?
Saya merasa Tuhan begitu luar biasa melatih saya dengan hal yang luar biasa ini. Mungkin ini adalah salah satu jawaban dari doa Rosario pembebasan yang saya daraskan ya Tress.. Saya merasa berkat yang luaaaar biasa hebatnya bisa menjadi ‘tuan’ untuk diri saya sendiri. Saya tidak lagi ditentukan oleh sikap orang pada saya Tress, tapi saya bisa menjadi penentu sikap apa yang ingin saya lakukan. Sungguh-sungguh nikmat Tress menjadi orang yang ‘bebas merdeka’ Walaupun ini semua masih merupakan pembelajaran bagi saya. Saya juga ingin mengajakmu belajar dan berlatih bersama saya juga dalam mengolah hidupmu sehari-hari Tress.
Oke Tress.. thanks ya non, kamu sudah mau mendengarkan sharring saya ini. Doa dan supportmu sangat saya butuhkan untuk saya bisa tetap bertekun mengolah diri menjadi orang yang lebih baik.
Byee tress… see you ya..
Salam Soen sayang selalu untukmu sahabat
Dariku:
Linda

CINCIN INI

"Wah jariku jadi langsing..." Tatapku pada jari yang kosong

Cincin yang sudah hampir 21 tahun melingkar disana

kini mesti ku lepas kepada sang pengrajin emas

karena sudah terlalu sempit untuk jari yang mulai gemuk bersama melajunya usia-ku.

“Tolong dibesarkan satu nomer pak..” Kataku padanya

“Baik bu, butuh dua atau tiga hari ya untuk men-servisnya” Katanya padaku

Dalam hati, aku berharap tubuhku tidak melar lagi,

agar cincin itu bakal cukup sampai akhir waktu-ku nanti.

Kini cincin itu belum kembali menempati jariku..

Aku masih memandangi jariku yang terlihat aneh

Terlihat tidak seimbang dan mengecil di bagian pangkalnya

Sangat berbeda dibandingkan dengan jariku yang lain.

Tapi aku tahu keanehan itu adalah lambang kesetiaan bagiku.

Aku mempertahankan dia ada disana dengan airmata dan doa.

Walaupun aku tahu sudah sangat lama engkau melepaskan cincin itu dari jarimu

Tapi hal itu tidak membuatku ingin melepaskan cincin ini dari jariku.

Biarlah kesetiaan ini masih jadi milikku

Karena hanya ini yang aku punya

Aku tidak lagi berhitung, engkau menghargai atau tidak kesetiaanku

Aku tidak lagi mempertahankan harga diriku, aku ini berarti atau tidak bagimu

Aku hanya ingin setia pada Tuhan-ku

Yang sudah memeteraikan cincin ini di jari-ku

Aku hanya ingin berdiri tegak di hadapan Allah dengan memakai cincin ini

Karena aku tahu hanya DIA-lah yang menerima aku apa adanya.

Aku tahu kelak bila tiba waktu itu…

DIA hanya menanyakan padaku “Mana jari manismu Linda?”

Dan DIA akan tersenyum padaku dan memeluk aku…..

Coretan iseng pengisi liburan

28 Mei 2010

Tulisan ini aku hadiahkan untuk cici-ku yang tercinta

Yang hari ini merayakan Ulang tahun perkawinannya yang ke-38

Aku meneladanimu ce..

Kerukunan dan kesetiaan kalian jadi kekuatan bagiku untuk berjuang, thanks…

JALAN SUNYI

Ada rasa terkuak...

takala kata itu tiba...

bahwa jalanmu bukanlah jalanku...

Jalanmu penuh tapak kaki orang

yang diacungi jempol oleh orang-orang kebanyakkan...

Jalanku adalah jalan sunyi

tak banyak orang mau melangkah

Jalanku adalah jalan sepi

yang banyak orang menghindar

dan itulah pilihanku

Tapi kadang lelah mendera...

memimpikan sebuah tangan melambai dan menyapaku..

Memimpikan sebuah senyum kasih yang menyeruak...

Memimpikan sebuah bahu kokoh yang mau melindungiku...

Dan ketika airmata ini menetes membasahi asa-ku

Engkau hadir dan mendekapku erat

Engkau katakan bahwa jalan sunyi itu tidak akan menakutkan lagi

Jalan sunyi itu akan membuatku bebas melenggang bersamaMU

Menapak impian yang selalu hadir dalam tidurku

Terimakasih Tuhan

Terimakasih malaikat-malaikatku yang selalu ada di sekeliling kepekatan sunyi jalanku

(Denpasar, 23 Juni 2010... dan basah menghiasi pipi-ku)

WARNA-WARNI

Warna-warni dunia-ku...
membuat-ku kaya...
Warna-warni dunia-ku..
membuat-ku menangis dan tertawa...

Kadang aku terhenyak
kadang aku tersipu
memotret sejuta peristiwa di seputarku...
Ada selaksa pelajaran yang tercecer disana..

Ada yang selalu menjadi pusat limpahan kasih banyak orang, tetapi tetap haus
Ada yang selalu memberi warna terang untuk mendapat sapaan sesamanya...
Ada yang berteriak menumpahkan keluh kesahnya dengan mudahnya..
Ada yang memendam rasa memegangi sakitnya...

Aku mencintai warna-warni dalam hidup-ku...
Aku sungguh mencintai dan akan selalu mencintainya...

Denpasar, 26 July 2010
di tengah kelelahan aku tersenyum.

PERPISAHAN

Aku benci perpisahan...
Karena dalam perpisahan ada airmata...
Karena dalam perpisahan ada sepotong hati yang kosong...
Karena dalam perpisahan ada kegelapan...

Aku benci perpisahan...
Aku tidak suka perpisahan...
Aku kesakitan mesti kehilangan kau...
Aku rindu mesti jauh darimu...
Aku gamang dan jiwaku kosong...

Perpisahan membuatku ingin terhilang..
Dan perpisahan itu adalah hampa, luluh dan diam...

(Denpasar, 08 Agustus 2010, terinspirasi tayangan saat IMB kehilangan JP Melanix)

BAHAGIA

Ada orang bahagia di atas tangisan orang lain...

Ada orang bahagia karena dia memilih untuk selalu bahagia...

Ada orang bahagia karena dia memang dilimpahi dengan sejuta kemudahan...

Bahagia sejati adalah bahagia Tuhan...

Bahagia sejati adalah senyum ketulusan melihat orang lain bahagia...

Bahagia sejati karena cinta yang meluap untuk membahagiakan orang lain...

Bahagia adalah sebuah nyanyian sederhana seorang anak kecil...

Bahagia adalah belaian tangan keriput seorang ibu...

Bahagia adalah kehangatan perlindungan seorang Bapa...

Dan kebahagiaan itu adalah aku... Yang dicintai oleh Bapa...

INGIN

Setiap orang punya keinginan..

dan kadang rasa itu menembusi batas angan...

Kadang keinginan yang pupus,

malah tanpa rasa sama sekali

Hambar dan tidak berbentuk

Tuhan.. ingin ku menyatu dalam ketidak inginan...

hingga tidak ada lagi kebimbangan...

kadang terloncat pikiran absurd... 'Aku tidak mau terhambur dalam rasa'

Sehingga semua jadi bening dan kosong

'Aku ingin menjadi elastis'

Sehingga tidak ada lagi bentuk dan ruang..

Andai keinginan ini bisa pudar dan semuanya tenang..

Andai keinginan ini bisa bersatu dalam pekanya jiwa

dan andai aku adalah hembusan angin yang tak berkasat...

Ahh.... aku ingin menyatau denganMU Gusti...

(Denpasar, 18 Agustus 2010... disaat keinginan timbul tenggelam dan aku butuh peneguhan)

JERAWAT

"Aneh.." kataku

"Sejak awal tahun ini kok jerawat-ku jadi rutin mengunjungi hidung dan dagu-ku ya?"

Aku belum pernah mengalami jerawat sebelum-sebelum ini...

justru ketika aku mulai menerapkan hidup sehat dengan Olah raga dan merubah pola makan

kenapa mereka jadi rajin mengunjungi-ku ya?

Bisa bayangkan saya yang jarang memoleskan make up di wajahku

kini mesti sibuk menutupi bulatan merah besar yang mengkilap di tengah hidung..

aku coba tutupi dengan bedak...

sebentar samar.. lalu kembali muncul memerah...

mana rasanya sakit dan berdenyut-denyut seperti mau meletus...

"Jangan-jangan ini yang disebut dengan jerawat asmara?" katamu

"Walaaah..." Aku jadi terhenyak dengan gurauan itu...

"Jangan-jangan...... jangan-jangan....."

Aku mencoba bertanya dengan hatiku...

"Siapakah yang ada dihatimu?" tanyaku padanya

Dia diam dan terpejam...

dan dengan tersenyum hatiku pun merona malu...

Aku mencoba mengintipnya..

bayangan siapa yang muncul di dinding hati-ku?

Dengan mencoba menutup-nutupi dari pandanganku

hatiku bergejolak...

Dan... ssst Dia muncul....

Sesosok senyum yang manis...

yang selalu menjadi kerinduan gairah-ku

Dia adalah Yesus-ku...

wajah yang selalu menyertai-ku siang dan malam...

Mataku terbelalak...

"Wauw... kenapa Dia? bukan Dia pasti yang membuat aku jerawatan" Kata-ku berdalih dan tidak ikhlas...

Hatiku pun menjawab... "Memang bukan Dia.... "

"Tapi cinta-mu yang terus berkobar dan bergairah untuk selalu membuatNya tersenyum...

itu yang mengaktifkan seluruh hormon tubuhmu..."

Aku kembali berkaca...

Kulihat jerawat itu makin memerah... persis di tengah hidung

Dan aku-pun tersenyum...

membayangkan hatiku yang bersemu merah...

dengan malu dan penuh cinta memandang wajah Kekasih-ku

"Ahh.. bila demikian, biarkanlah jerawat ini rajin mengunjungiku di usia senjaku.."

Dan selalu mengingatkanku akan gejolak hatiku yang tersembunyi...

I so Love YOU...

(Denpasar, 19 Agustus 2010... di saat jerawat tersayangku senang mekar-mekarnya..hahahaha...)

AKU RINDU

Papi,

ketika seseorang memberiku hadiah untuk memilih...

kenapa aku jadi ingat sama kamu ya?

Papi,

setiap kali ku lihat suami temanku shopping bersama anak perempuannya

kenapa aku jadi ingat sama kamu ya?

Papi,

Setiap kali aku melihat sebuah cinta yang menetes dari seorang bapak pada anaknya

kenapa aku jadi rindu padamu ya?

Papi,

Setiap 'My way' itu terdengar di telinga-ku

selalu aku mendongakkan kepalaku memandang ke Surga dan mencarimu disana

Aku rindu dengan senyummu papi, senyum seorang bapak...

aku rindu peneguhanmu untukku

Ahh... papi seandainya engkau ada di dalam hidup saat ini

mungkin aku tidak akan bingung memilih saat ini..

karena kau pasti akan lebih bingung memilihkan yang terbaik untukku...

Papi,

cintamu sudah menghantarkanku mengenal BAPA di Sorga

cintamu sudah membuatku 'bertekad' untuk menemani bapak Yosef di Sorga nanti...

Dan kau tahu papi?

Rindu ini semakin menggebu di hati-ku

membuatku selalu menangis...

Ketika aku Misa, aku selalu 'melihat' kau tengah menatapku dengan kasih yang tulus

Ketika aku duduk di atas motorku, matamu selalu mengikutiku

(seperti dulu, kau selalu memastikan bahwa motor yang ku naiki semuanya beres dan jangan sampai menyulitkan aku dan membuatku celaka)

Dan ketika aku bingung memilih yang terbaik saat ini, aku semakin merindukan bercakap-cakap denganmu...

Papi..

Berbahagialah di Surga bersama mami...

Saat ini tidak ada seorang-pun yang bisa menjauhkan Kasih sayangmu dari padaku

tidak juga maut yang memisahkan dunia kita...

Papi, terimalah kerinduan saya

yang terbalut dalam doa dan air mata

Kau yang sudah menghantarkan aku mengenal Bapa di Sorga..

Thanks papi... Engkau sudah mengajarkan banyak sekali pelajaran hidup padaku

Aku tetap merindukan hadirmu dalam tiap perjuangan saya menuju Sorga

I Love You Papi...

(Denpasar, 20 Agustus 2010.. ku persembahkan untuk dia yang selalu menyayangiku sampai pada akhirnya)

DI BALIK ROSARIO-KU

Aku suka jalan pagi..

Dan hampir setiap pagi aku melakoninya..

Di seputaran lapangan renon..

sambil menggengam Rosario-ku..

Mulut-ku komat-kamit mendarasakan doa hati...

untuk semua orang yang terkasih...

Kadang mataku memandang ke langit...

Ke awan gemawang...

Ke puncuk-puncuk rindangnya dedaunan..

mereka semua mengalunkan doa yang sama..

untuk sebuah pertumbuhan jiwa..

sebuah hati yang merindukan kebebasan sejati...

Kadang-kadang aku mengintip di balik Rosario...

seliweran orang berjalan...

Ada yang rambutnya tergerai dengan dandanan menor..

dengan baju sporty yang sexy ala agnes monica...

tak peduli usia sudah separuh baya...

Jalannya melenggak-lenggok bagaikan di atas catwalk...

membuat banyak orang menoleh dengan mata jalang...

Ada sejoli yang berjalan beriring dengan tubuh

yang memancarkan aura cinta yang mekar...

Banyak pula atlit dengan otot dan keperkasaan badan sedang melatih diri

Tak sedikit pula keluarga muda dengan kebahagiaan yang memancar sambil menuntun kaki mungil berjalan dan berlarian dengan yang lain

Semuanya sibuk dengan 'coretan'nya sendiri

mengejar hari dan keceriaan jiwa...

Di balik untaian rosarioku

aku belajar banyak

aku menyerap banyak

akan makna kehidupan, kegembiraan dan cinta

dengan polesan kesederhanaan langkah

Andaikan semua orang tahu

kebahagiaan tidak sama dengan gemerlapnya sebuah mobil mewah

tidak sama dengan nyamannya sebuah keromantisan Eropah

tidak sama pula dengan sebuah acara pesta bertaburan parfum...

Di ujung lapangan rumput

ada sejumlah siswa tertawa lepas dengan kaos olahraganya yang penuh lumpur

Di ujung lapangan rumput..

Ada sejumlah lelaki berambut putih jongkok sambil memakan semangkuk hangat bubur ayam-nya

dengan bilasan tawa canda

Diujung lapangan rumput..

Ada ketenangan wajah dengan nafas teratur

melenturkan tubuhnya mengikuti irama yoga

di ujung lapangan rumput...

ada sekelompok bintara berlatih kekompakan kebersamaan

Duka, dimana sengatmu?

engkau hanya bisa menyerang orang yang tidak puas dengan kesederhanaan sebuah suka cita

engkau hanya bisa menyerang orang yang tidak mencari kesehatan jiwa

Aku menyukai sekolah pagi-ku ini

Sekolah dibalik untaian rosario-ku

bila aku sedang bersekolah seperti ini

aku bisa merasakan semua kasih Tuhan terhadap setiap orang

dan kasih itulah yang menumbuhkan aku untuk semakin mencintai sesamaku

entah dia yang suka berdandan menor

entah dia yang selalu mengudap dimana-mana

entah dia yang mesti teriak-teriak melepaskan gojalak resahnya...

bila aku sedang bersekolah seperti ini

aku ingin hidup lebih lama

karena hanya kegembiraan batin yang membuncah

di balik keringat ku yang membasahi training pack-ku

Tuhan andaikan semua orang bisa bersekolah seperti-ku

alangkah dalamnya hidup dan keindahannya...

dan aku pun berdoa untuk mereka...

Amin.

(Denpasar, 21 Agustus 2010... disaat aku mengalami nikmatnya bersahabat dengan derunya alam)

AKU BERGULAT

Bila aura negatif ini muncul...

betapa susahnya untuk menuntun hati melihat kebesaran Tuhan...

Bila kebencian ini hadir...

Betapa susahnya saya membaca kesungguhanmu saat menangis menyesal

Bila seluruh tubuh ini bergetar...

Betapa susahnya untuk melahirkan karya...

Semuanya seperti mampat dan tersumbat

di sebuah lubang tanpa batas...

Orang tidak mengerti...

Dan hanya bisa bersumbar tentang kebenaran...

dan aku tidak membutuhkan kebenaran itu..

Aku butuh ketulusan bukan kebenaran...

Aku butuh kasih tanpa kepura-puraan...

sebuah pengertian akan waktu untuk menyembuhkan luka

bukan sebuah pameran di tempat terbuka sambil tertawa dan bertatapan

Aaah setiap kali mengingat gambar itu

hanya sebuah kebencian yang membuncah

hanya sebuah kesakitan yang menyerang seluruh sendi...

Andai saja saya tidak pernah berkenalan denganmu

apalagi memberikan tempat di hatiku

Kau boleh tersenyum dan mengatakan sejuta kasih padaku

Kau boleh menjadi indah dihadapan sebuah pameran kehidupan

Kau boleh menjadi hebat dengan airmatamu yang jatuh di pangkuanku

Dan kau boleh puas dengan tawa bahagia yang kau pamerkan

Atau kau boleh merasakan 'menang' atas sebuah drama yang kau susun

Aku akan tetap berjuang..

Meraih hidupku sendiri..

Kalau aku terluka dan terpecah seperti saat ini

Aku tahu aku masih punya waktu untuk berbenah

Mengumpulkan serpihan-serpihan ini

Kalau memang sakit ini harus tergores lagi

biarlah menjadi pelajaran berharga akan sebuah kasih yang terkoyak

Aku tidak butuh mata yang menatap iba melihat aku terseok-seok kesakitan

Aku juga tidak butuh senyum yang mengejek karena sebuah kejatuhan

apalagi tepuk tangan yang gegap gempita...

Aku masih belum kalah...

Aku masih punya waktu untuk berjuang..

untuk menjadikan hidupku kembali tegak

Aku tidak butuh senyum kepuasanmu yang merasa menang

Aku juga tidak peduli kalau kau mengulangi lagi perkataanmu

bahwa kau akan mendapatkan apa saja yang kamu mau...

Aku akan melawanmu...

Aku akan menghadapimu

aku tidak akan menjadi orang bodoh yang mau saja kau kelabuhi dengan janji...

Dan aku tidak butuh lagi janji-janjimu...

Aku tahu gambar itu tidak akan terhapus dari hatiku

Aku tahu aku butuh waktu untuk menghentikan darah di lukaku

Tapi aku percaya aku punya Tuhan yang besar

Aku percaya Dia tidak akan bosan menolongku

yang terjatuh saat belajar...

Tuhan ajari aku untuk bisa melupakan apa yang aku lihat

Beri aku kekuatan dan kemampuan-Mu Tuhan

Dan aku akan sabar walaupun aku harus mengulang lagi sampai delapan tahun seperti proses yang lalu

Aku akan sembuh kembali dan bisa berkarya dengan baik tanpa gambar itu lagi

(Denpasar, 23 Agustus 2010 yang tercecer diantara puluhan coretan ngawur)

BINTANG

Ketika aku melihat kerlipmu..

Aku tahu ada harapan disana…

Ketika aku melihat senyummu dibalik kegelapan malam…

Aku tahu ada cinta Tuhan disana…

Aku suka seperti ini bintangku…

Hanya berdua saja dengan-mu…

Menembus-i gelap malam dengan desahan nafas yang ber-embun…

Aku sungguh suka bersama engkau bintangku…

Merapat bersama dinginnya malam…

Mendengarkan suara nyanyian binatang malam..

Merentas kesunyian total menyatu dalam helaan nafas Tuhan..

Aah bintang-ku…

Betapa engkau sudah mengisahkan begitu banyak keindahan cinta…

Yang ada dan yang tercecer di perbukitan ini…

Tempat doa berkanjang dalam bisu…

Tempat keindahan berpagut dengan dinginnya malam…

Aku suka duduk disini…

Di tangga kapela berdinding batu…

Sendiri tanpa kegelisahan…

Bercengkerama bersama kerlipmu yang memancarkan terang…

Andai Kekasih-ku ada disini..

Mungkin aku dapat meletakkan kepala-ku pada bahuNya yang bidang..

Bermain dalam kebisuan malam tanpa kata…

Dan aku dapat mendengarkan degup jantungNya…

Yang membisikkan “Selamat Ulang tahun sayang…”

“Senyuman bintang malam ini adalah hadiah-Ku untuk-mu” BisikNya lagi untuk-ku

Aah… Kekasihku, aku semakin merindukanMu…

Yang selalu memberikan cinta yang tak berujung padaku…

Dan aku tahu, saat ini, disini…

Hanya ada Engkau, aku dan bintang yang berpijar…

(Pertapaan Gedono, 27 Agustus 2010… Dalam luapan Kasih Tuhan..)

BINGKAI KEBAHAGIAAN

Banyak orang mengatakan aku sangat cantik di foto itu..

Banyak orang mengatakan senyumku sangat indah dalam foto itu...

Banyak orang mengatakan wajahku memancarkan cinta di gambar itu..

Engkau tahu mengapa?

Karena tepat di hari ulang tahunku itu..

Aku dikelilingi oleh orang-orang yang mengasihiku..

Karena tepat di hari ulang tahunku itu..

Ada banyak doa yang dibalutkan padaku..

Ada banyak salam yang dikirimkan padaku..

Ada banyak cinta yang dipancarkan untukku...

Dalam kehadiran mereka di dalam hatiku secara nyata

meskipun fisik mereka tidak dapat menjangkau-ku

Dan terlebih lagi..

Dalam rangkaian persiapan ulang tahunku itu..

Aku mengalami Tuhan menyapa aku secara khusus dan istimewa..

Dalam tirakat dan doa dalam retret-ku

dalam kapael berdinding batu di sebuah puncak Gunung..

Aku mengalami cinta Tuhan yang mendalam padaku...

Terimakasih Tuhan untuk tanda cinta-MU yang besar ini...

Terimakasih Teman untuk ketulusanmu yang bening padaku

Terimakasih semuanya untuk kasih yang kalian taburkan dalam hidupku

Setiap melihat semua foto-foto itu aku tersenyum bahagia..

Setiap kali melihat foto itu aku menangis terharu..

betapa Tuhan sudah begitu mencintai-ku

Semua tergambar jelas.. meskipun banyak moment sesudahnya

bersama orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku yang tidak terfoto

yang tidak tertangkap oleh kamera..

Tapi semuanya itu sudah menjadi satu yang terwakili oleh gambar-gambar itu dalam hati dalam jiwaku..

Foto-foto ni sangat berarti bagiku Tuhan.. Terimakasih

Sekali lagi terimakasih sahabat-sahabat ku

yang sudah melimpahi segudang kebahagiaan padaku..

Terimakasih saudara-saudara dan anak-anakku

yang sudah membuncah-i cinta sepenuh-penuhnya dalam jiwa ragaku

terimakasih banyak Tuhan...

Bingkai kebahagiaan dua hari ini akan menjadi frame dalam hidupku secara penuh..

CintaMU Tuhan melebihi hidup..

Nikmat MU Tuhan melebihi air madu lebah murni...

Kebahagiaan yang Kau berikan padaku

Lebih dari apa yang bisa saya berikan padaMU

I Love You Lord...

Denpasar, 2 September 2010

dengan airmata menetes di mataku

LALU LALANG

Aku senang diam disini..

Menatap lalu-lalang orang yang sedang bersukacita..

Tersenyum dengan kiriman foto terbaru-nya..

Bahagia dengan status di dindingnya...

Aku senang berdiam disini...

melihat lalu-lalang sebuah keakraban para sahabat

yang bercengkerama, berbagi cerita, berbagi getaran...

yang meski kadang tidak nyaman untuk yang lain..

Aku senang tegak disini...

Menatap sejumput intrik

yang kadang terselip di tengah-tengahnya nafas yang memburu...

Aku suka tetap tegar disini...

sampai matahari merayap menapaki pintunya..

Sampai rembulan berbaring di buaian angin malam..

Sampai ruang kosong-ku terisi penuh oleh cinta...

Aku ingin tetap membuka hatiku disini..

tempat dimana semua cinta menyatu...

Tempat dimana sejuta maaf berkidung..

Tempat dimana aku selalu dapat membuat Tuhan tersenyum...

Disini...

Ada sejuta makna..

yang bergelut dengan sejuta perjuangan cinta dan pengampunan

Dan aku...?

Sungguh S u k a d i s i n i...

(Denpasar, 4 September 2010... ditengah aku berada di beranda FB-ku)


LIBUR LEBARAN

Libur Lebaran

Mbak pada mudik

Ternyata menjadi seorang ibu rumah tangga

jauh dari kata 'Mudah'

ada tetes keringat di sekujur tubuh

menyiapkan sarapan pagi, hidangan siang dan malam

juga ada senyum kecil..

disaat menjemur baju yang baru keluar dari mesin cuci

Dan ada senandung kecil dikala menyetrika baju..

diiringi lagu-lagu cinta

Terima kasih Tuhan..

Engkau memberiku kesempatan

untuk menjadi cinta dalam sebuah kedalaman relasi

tanpa tuntutan, tanpa harapan apapun..

waktukupun berlebih banyak..

masih dapat ku bagikan untuk orang-orang di sekitarku

untuk pekerjaan dan paroki ku juga

untuk anak-anak yang membutuhkan bentuk pemikiranku

Senyumku pun berlebih banyak..

untuk orang-orang yang berbeban berat

untuk anak-anak yang kurang mendapatkan senyum di luar-luar sana

Disini masih ku siapkan segudang cinta untuk mereka

untuk semua tangan yang terulur padaku

Tuhan berkatilah persembahanku..

Terima kasih untuk waktuku yang selalu Kau lebihkan

Selamat Libur lebaran teman..

Ada kebahagiaan yang menggantung

di tengah seribu senyum kebersamaan...

ALLAH HU AKBAR.........

(coretan iseng, dikala Tuhan menyapa)

Denpasar, 04 Nopember 2005

Linda Wahjudi



AKU SUKA

Aku suka diri-ku dalam bingkai persahabatan...

Aku suka diri-ku dalam segala keterbatasanku...

Aku tetap beranikan diri untuk mengulurkan tangan pada setiap hati...

Meski-pun ada banyak penolakan juga yang ku terima...

Paling-paling aku hanya merasakan perih sesaat...

dan segera ku kecap dan ketelan dengan rasa syukur..

bahwa aku sudah meluaskan hati-ku se-inci...

Aku suka melihat diri-ku dalam binar mata orang...

khususnya mata bening seorang anak..

dan mata lelah seorang kakek dan nenek...

Aku suka bersahabat dengan mereka..

Karena aku menemukan cinta yang besar dalam kerlip matanya...

Aku suka melihat diri-ku dalam kepolosan dan kebeningan jiwa

yang aku miliki dan yang bisa dibaca setiap orang...

Aku suka melihat diri-ku dalam pangkuan Bapa-ku...

mendengarkan komentar setiap orang yang 'membaca' jiwa-ku

Sebagian orang ingin aku menutupi sebagian jiwa-ku...

agar aku tetap menjadi Linda seorang yang dikasihi-nya..

agar mereka tidak perlu melihat sisi gelap-ku, luka-luka-ku, aib-aib-ku...

Sebagian orang, memelukku... memberi support padaku

dan mengatakan "Aku semakin mengerti perjuanganmu..."

Ketika aku mendengar setiap penilaian orang tentang aku...

Aku berpaling menatap wajah Bapa-ku yang tengah memangku-ku

Aku mencari bola mata-NYA untuk melihat, IA berkata apa padaku?

Di bola mata itu, hanya ku temukan kerlip yang dalam...

Di bola mata itu, hanya ku temukan cinta yang tak berujung...

Di bola mata itu, aku melihat gambarku yang tersenyum dan tersimpan cantik...

Bapa... ketika aku menemukan itu...

aku tahu, betapa istimewanya aku di hati-MU

untuk menjadi seorang pemimpin, aku tidak harus menjadi orang lain

Untuk menjadi orang yang dikasihi, aku tidak harus selalu nampak baik

Untuk menjadi orang yang diterima. aku tidak harus mengubah diriku menjadi seperti kata orang..

Bapa, thanks ya untuk kerlip mata-Mu..

Bapa, Thanks ya untuk untaian ampun tanpa kata yang kau senandungkan di mata-Mu

Bapa, thanks ya untuk penerimaan diri-Mu padaku...

(Denpasar, 13 September 2010)

untuk semua orang yang ku kenal, Terimakasih, kalian sudah menumbuhkanku

AKU MENGATAKAN

Aku mengatakan 'Aku adalah seorang wanita yang tegar'

walau-pun ada kegentaran di setiap langkah-ku

Aku mengatakan 'Aku adalah wanita yang dilimpahi selaksa bahagia'

walau-pun setiap malam ada air mata di ranjangku...

Aku mengatakan 'Aku adalah seorang wanita pemberani'

Walau-pun ada sejuta ketakutan di jiwa-ku...

Ketegaran yang sejati terletak pada langkah-ku yang tak pernah surut memapah anak-anak-ku sampai kepada mimpi Tuhan

Kebahagia yang sejati terletak pada setiap kata syukur yang teruntai memenuhi sanubari-ku

Keberanian yang sejati terletak pada lutut-ku yang bertelut mencari DIA

Ingin kupahatkan harapan itu tanpa akhir...

pada dinding hatiku...

pada sinap-sinap di otak-ku

Agar aku tetap berjalan meskipun langkah ini goyah...

Agar aku tetap tersenyum walau-pun ada perih yang menetes di hati-ku

Agar aku tetap bekerja, walau-pun tidak terlihat hasil...

Aku akan tetap datang pada-MU Tuhan

dengan cinta yang bergelora

Aku akan tetap mencari wajah-MU ya Tuhan

dengan tekad yang membaja

Dan aku tahu ada senyum dan kebahagiaan yang sudah KAU sediakan secara khusus bagi-ku

Dan itulah mimpi-ku bersama-MU

(Denpasar, 14 September 2010)

Dikala ada kelesuan di jalan-ku

HADIAH-MU

Hadiah-Mu adalah senyum buat-ku

yang kadang harus ku dapatkan melalui perjuangan keras

Hadiah-Mu terkadang samar, hadir dan lenyap seperti embun

membuatku mesti menatap-Mu lama untuk memastikannya

Hadiah-Mu selalu datang tanpa aku mengerti..

tak kulihat pintu tempat ia masuk...

Hadiah-Mu itu selalu membuat seluruh tubuhku bergetar

menyumbat teriakkan syukur-ku pada-Mu

Hadiah-Mu selalu melekat harum di seluruh nafas jiwa-ku

Membuat-ku mampu melenggok di kerumunan orang hebat

Hadiah-Mu adalah jiwa-Mu, cinta-Mu..

yang selalu membuat-ku luruh menyatu di dalamnya

Hadiah-Mu membuat-ku tegak berdiri..

indah...

cantik...

tanpa polesan...

tanpa wewangian...

dan Hadiah-Mu itu selalu membuat-ku bisa tersenyum

dan memandang lekat pada-Mu...

(Denpasar, 21 September 2010)

Di saat aku memandang pada-Mu dan merasakan bahagia...

SAYANG-MU PADA-KU

Aku tahu ketika aku tersenyum

engkau-pun tersenyum

karena bahagia-ku adalah bahagia-mu juga...

Aku tahu ketika aku menangis

engkau-pun menangis bersama-ku

berusaha menemani-ku sepanjang waktu berharga-mu

Aku tahu ketika aku susah

kau ulurkan tangan-mu pada-ku

kau berjuang semampu-mu untuk menolong-ku

karena sayang-mu pada-ku tanpa hitungan angka

Aku tahu ketika aku takut...

engkau menyediakan badan-mu untuk menjadi batukarang-ku

dengan segala keterbatasan-mu

engkau menahan hempasan gelombang itu untuk-ku

Sayang-mu adalah sayatan hati-mu

yang kau berikan pada-ku

Sayang-mu adalah pendaran kilau mata-mu

tanpa kata-kata

tanpa batasan ruang dan waktu

Sayang-mu adalah luapan cinta Tuhan

yang hanya berisi pemberian diri

dan selalu menerangi hari-hariku

langkah-langkah-ku

Dan sayang-mu itu selalu ada di dalam jiwa-ku

sampai aku membawanya ke Sorga

dan menyerahkan kepada Allah Bapa-ku disana

(Denpasar, 21 September 2010)

Thanks untuk sayang-mu yang menghidupi-ku

EMPATY-MU

Kalau kamu mengatakan,

'Mengapa banyak yang menilai saya tidak sesuai dengan yang kamu tahu tentang saya?"

Saya hanya mengatakan,

'Mungkin mereka merasa lebih baik dengan menilai

atau mungkin mereka sangat mengasihi saya dan mengharapakan saya bisa lebih baik dari yang mereka lihat'

Kalau kamu mengatakan,

'Kamu kasihan melihat saya dinilai seperti itu'

Saya hanya mengatakan,

'Setulus-tulusnya saya justru sangat berterimakasih kepada mereka semua,

mereka-lah yang selalu membuat saya selalu berjuang untuk bisa lebih baik'

Kalau kamu mengatakan,

'Kamu mengagumi ketegaran saya'

Saya hanya mengatakan,

'Ketegaran saya hanya karena Tuhan yang

selalu memberikan tempat pada airmata saya menetes di hati-Nya'

Kalau kamu mengatakan,

'Kamu ingin saya tetap melanjutkan perjuangan saya di jalan yang sepi ini'

Saya hanya bisa mengatakan,

'Saya tidak tahu sampai kapan,

hanya satu yang saya tahu Tuhan begitu mencintai saya lebih dari yang lain

Dan saya yakin DIA tidak akan membiarkan saya sendirian

Dia selalu kirim-kan malaikat-Nya untuk beriringan dengan saya'

Kalau kamu mengatakan,

'Kamu akan selalu mendoakan saya'

Saya mengatakan,

"Terimakasih, itulah yang paling saya butuhkan'

Sahabat terimakasih untuk empaty-mu pada-ku

Biarlah ini menjadi harapan dan doa

untuk sebuah keterbatasan seorang anak manusia dalam pergulatan hidupnya

Tuhan yang menciptakan

Tuhan yang memelihara

Terpujilah Dia...

Denpasar, 22 September 2010

untuk mbak HP yang semalam sudah mengungkapkan kegalauan hatinya...

ASMARA

Asmara adalah pancaran siluet dari Surga

yang gema-nya membahana di ujung-ujung jiwa

Asmara adalah suara yang melengking dari ufuk langit

yang meggetarkan dawai-dawai keletihan hati...

Asmara adalah aroma teraphy dari sang Alam..

yang semerbak-nya mampu menghisap sukma...

Asmara, membuat sebuah keindahan yang berwarna...

yang memancarkan keharuman di setiap pori tubuh-ku

yang membius seluruh detak nadi-ku

Asmara membuatku tergulung dalam kenikmatan asa...

yang buncahan-nya menggeleparkan seluruh tubuh-ku

Asmara memenuhi jiwa insani...

menyemarakkan dunia dan ke-alpha-annya

Asmara melumpuhkan Sang pahlawan

dan menyerak-kan Sang pejuang

gemetar melintas-i sebuah jalan yang tak mudah...

Asmara adalah dentingan nyanyian Surga

yang mampu menghidupkan sebuah kematian...

Asmara adalah satire Sang Pencinta..

yang mampu menggugah keberadaan Sang putri dalam tidur panjangnya..

Asmara adalah kebisuan hati-mu dan hati-ku...

yang gelombangnya sudah sampai ke Surga...

Denpasar, 25 September 2010

ditengah dentingan nyanyian Sorga...

JALAN DAMAI

Ketika kegelisahan itu engkau tekan dalam-dalam di nadi-mu

Ketika almarah itu engkau balut dengan sejumput senyum di dadamu

Ketika getir kebencian itu kau telan hidup-hidup

dan ketika ego-mu kau biarkan meluap membuncah di getaran jantung-mu

Engkau mengira, engkau sudah berbahagia diantara taburan tawa-mu...

Engkau mengira, engkau puas diantara sejuta karya-mu yang kau jejak-kan

Engkau mengira, engkau menang diantara sejuta relasi yang kau ukir...

Bercerminan pada alam, maka engkau akan tahu jawabnya...

Bercerminlah pada bintang, maka engkau akan tahu kidungan-nya

Bermainlah dengan ombak, maka engkau akan tahu senyuman sejati-mu

Jalan damai itu adalah kesejatian

dimana ada seribu kehangatan disana

yang akan membuat jiwamu selalu tentram

Jalan damai itu tanpa kepalsuan

dimana ada sejuta keindahan Sang Khalik

yang akan membuatmu tidak lagi mampu diombang-ambingkan dunia

Jalan damai hanya ditempuh oleh seorang pejuang

yang berani mencabik hatinya sendiri dan memberikannya pada 'sang musuh'

dengan senyum ketegaran

Bila jalan damai itu sudah menjadi milikmu

tidak akan ada lagi ada keinginan untuk menang dan dimenangkan

tidak ada lagi keinginan dia harus 'lenyap' dari keberadaan diri

Bila jalan damai itu sudah menjadi milikmu

yang ada hanyalah wewangian Surga di setiap nafasmu

yang membuatmu senantiasa menaburkan ketentraman jiwa

pada setiap rongga kehidupan

Jalan Damai itu adalah milik Sang Surya

Jalan damai itu adalah milik sang Bayu

Jalan damai itu adalah milik Sang empunya Surga

dan jalan damai itu adalah milikmu

bila engkau mau berjalan bersama mereka.

Denpasar, 26 September 2010

Aku suka menemukannya..