Bait doa-ku pun bergegas turun...
Menyentuh bumi..
Menggagas asa...
Di tapak Ganjuran doaku bertelut,
Menggeluti sebentuk berkah
"Tuhan kabulkanlah doa kami..."
(Ganjuran 17 april 2009)
"Wah jariku jadi langsing..." Tatapku pada jari yang kosong
Cincin yang sudah hampir 21 tahun melingkar disana
kini mesti ku lepas kepada sang pengrajin emas
karena sudah terlalu sempit untuk jari yang mulai gemuk bersama melajunya usia-ku.
“Tolong dibesarkan satu nomer pak..” Kataku padanya
“Baik bu, butuh dua atau tiga hari ya untuk men-servisnya” Katanya padaku
Dalam hati, aku berharap tubuhku tidak melar lagi,
agar cincin itu bakal cukup sampai akhir waktu-ku nanti.
Kini cincin itu belum kembali menempati jariku..
Aku masih memandangi jariku yang terlihat aneh
Terlihat tidak seimbang dan mengecil di bagian pangkalnya
Sangat berbeda dibandingkan dengan jariku yang lain.
Tapi aku tahu keanehan itu adalah lambang kesetiaan bagiku.
Aku mempertahankan dia ada disana dengan airmata dan doa.
Walaupun aku tahu sudah sangat lama engkau melepaskan cincin itu dari jarimu
Tapi hal itu tidak membuatku ingin melepaskan cincin ini dari jariku.
Biarlah kesetiaan ini masih jadi milikku
Karena hanya ini yang aku punya
Aku tidak lagi berhitung, engkau menghargai atau tidak kesetiaanku
Aku tidak lagi mempertahankan harga diriku, aku ini berarti atau tidak bagimu
Aku hanya ingin setia pada Tuhan-ku
Yang sudah memeteraikan cincin ini di jari-ku
Aku hanya ingin berdiri tegak di hadapan Allah dengan memakai cincin ini
Karena aku tahu hanya DIA-lah yang menerima aku apa adanya.
Aku tahu kelak bila tiba waktu itu…
DIA hanya menanyakan padaku “Mana jari manismu Linda?”
Dan DIA akan tersenyum padaku dan memeluk aku…..
Coretan iseng pengisi liburan
28 Mei 2010
Tulisan ini aku hadiahkan untuk cici-ku yang tercinta
Yang hari ini merayakan Ulang tahun perkawinannya yang ke-38
Aku meneladanimu ce..
Kerukunan dan kesetiaan kalian jadi kekuatan bagiku untuk berjuang, thanks…
Ada rasa terkuak...
takala kata itu tiba...
bahwa jalanmu bukanlah jalanku...
Jalanmu penuh tapak kaki orang
yang diacungi jempol oleh orang-orang kebanyakkan...
Jalanku adalah jalan sunyi
tak banyak orang mau melangkah
Jalanku adalah jalan sepi
yang banyak orang menghindar
dan itulah pilihanku
Tapi kadang lelah mendera...
memimpikan sebuah tangan melambai dan menyapaku..
Memimpikan sebuah senyum kasih yang menyeruak...
Memimpikan sebuah bahu kokoh yang mau melindungiku...
Dan ketika airmata ini menetes membasahi asa-ku
Engkau hadir dan mendekapku erat
Engkau katakan bahwa jalan sunyi itu tidak akan menakutkan lagi
Jalan sunyi itu akan membuatku bebas melenggang bersamaMU
Menapak impian yang selalu hadir dalam tidurku
Terimakasih Tuhan
Terimakasih malaikat-malaikatku yang selalu ada di sekeliling kepekatan sunyi jalanku
(Denpasar, 23 Juni 2010... dan basah menghiasi pipi-ku)
Ada orang bahagia di atas tangisan orang lain...
Ada orang bahagia karena dia memilih untuk selalu bahagia...
Ada orang bahagia karena dia memang dilimpahi dengan sejuta kemudahan...
Bahagia sejati adalah bahagia Tuhan...
Bahagia sejati adalah senyum ketulusan melihat orang lain bahagia...
Bahagia sejati karena cinta yang meluap untuk membahagiakan orang lain...
Bahagia adalah sebuah nyanyian sederhana seorang anak kecil...
Bahagia adalah belaian tangan keriput seorang ibu...
Bahagia adalah kehangatan perlindungan seorang Bapa...
Dan kebahagiaan itu adalah aku... Yang dicintai oleh Bapa...
Setiap orang punya keinginan..
dan kadang rasa itu menembusi batas angan...
Kadang keinginan yang pupus,
malah tanpa rasa sama sekali
Hambar dan tidak berbentuk
Tuhan.. ingin ku menyatu dalam ketidak inginan...
hingga tidak ada lagi kebimbangan...
kadang terloncat pikiran absurd... 'Aku tidak mau terhambur dalam rasa'
Sehingga semua jadi bening dan kosong
'Aku ingin menjadi elastis'
Sehingga tidak ada lagi bentuk dan ruang..
Andai keinginan ini bisa pudar dan semuanya tenang..
Andai keinginan ini bisa bersatu dalam pekanya jiwa
dan andai aku adalah hembusan angin yang tak berkasat...
Ahh.... aku ingin menyatau denganMU Gusti...
(Denpasar, 18 Agustus 2010... disaat keinginan timbul tenggelam dan aku butuh peneguhan)
"Aneh.." kataku
"Sejak awal tahun ini kok jerawat-ku jadi rutin mengunjungi hidung dan dagu-ku ya?"
Aku belum pernah mengalami jerawat sebelum-sebelum ini...
justru ketika aku mulai menerapkan hidup sehat dengan Olah raga dan merubah pola makan
kenapa mereka jadi rajin mengunjungi-ku ya?
Bisa bayangkan saya yang jarang memoleskan make up di wajahku
kini mesti sibuk menutupi bulatan merah besar yang mengkilap di tengah hidung..
aku coba tutupi dengan bedak...
sebentar samar.. lalu kembali muncul memerah...
mana rasanya sakit dan berdenyut-denyut seperti mau meletus...
"Jangan-jangan ini yang disebut dengan jerawat asmara?" katamu
"Walaaah..." Aku jadi terhenyak dengan gurauan itu...
"Jangan-jangan...... jangan-jangan....."
Aku mencoba bertanya dengan hatiku...
"Siapakah yang ada dihatimu?" tanyaku padanya
Dia diam dan terpejam...
dan dengan tersenyum hatiku pun merona malu...
Aku mencoba mengintipnya..
bayangan siapa yang muncul di dinding hati-ku?
Dengan mencoba menutup-nutupi dari pandanganku
hatiku bergejolak...
Dan... ssst Dia muncul....
Sesosok senyum yang manis...
yang selalu menjadi kerinduan gairah-ku
Dia adalah Yesus-ku...
wajah yang selalu menyertai-ku siang dan malam...
Mataku terbelalak...
"Wauw... kenapa Dia? bukan Dia pasti yang membuat aku jerawatan" Kata-ku berdalih dan tidak ikhlas...
Hatiku pun menjawab... "Memang bukan Dia.... "
"Tapi cinta-mu yang terus berkobar dan bergairah untuk selalu membuatNya tersenyum...
itu yang mengaktifkan seluruh hormon tubuhmu..."
Aku kembali berkaca...
Kulihat jerawat itu makin memerah... persis di tengah hidung
Dan aku-pun tersenyum...
membayangkan hatiku yang bersemu merah...
dengan malu dan penuh cinta memandang wajah Kekasih-ku
"Ahh.. bila demikian, biarkanlah jerawat ini rajin mengunjungiku di usia senjaku.."
Dan selalu mengingatkanku akan gejolak hatiku yang tersembunyi...
I so Love YOU...
(Denpasar, 19 Agustus 2010... di saat jerawat tersayangku senang mekar-mekarnya..hahahaha...)
Papi,
ketika seseorang memberiku hadiah untuk memilih...
kenapa aku jadi ingat sama kamu ya?
Papi,
setiap kali ku lihat suami temanku shopping bersama anak perempuannya
kenapa aku jadi ingat sama kamu ya?
Papi,
Setiap kali aku melihat sebuah cinta yang menetes dari seorang bapak pada anaknya
kenapa aku jadi rindu padamu ya?
Papi,
Setiap 'My way' itu terdengar di telinga-ku
selalu aku mendongakkan kepalaku memandang ke Surga dan mencarimu disana
Aku rindu dengan senyummu papi, senyum seorang bapak...
aku rindu peneguhanmu untukku
Ahh... papi seandainya engkau ada di dalam hidup saat ini
mungkin aku tidak akan bingung memilih saat ini..
karena kau pasti akan lebih bingung memilihkan yang terbaik untukku...
Papi,
cintamu sudah menghantarkanku mengenal BAPA di Sorga
cintamu sudah membuatku 'bertekad' untuk menemani bapak Yosef di Sorga nanti...
Dan kau tahu papi?
Rindu ini semakin menggebu di hati-ku
membuatku selalu menangis...
Ketika aku Misa, aku selalu 'melihat' kau tengah menatapku dengan kasih yang tulus
Ketika aku duduk di atas motorku, matamu selalu mengikutiku
(seperti dulu, kau selalu memastikan bahwa motor yang ku naiki semuanya beres dan jangan sampai menyulitkan aku dan membuatku celaka)
Dan ketika aku bingung memilih yang terbaik saat ini, aku semakin merindukan bercakap-cakap denganmu...
Papi..
Berbahagialah di Surga bersama mami...
Saat ini tidak ada seorang-pun yang bisa menjauhkan Kasih sayangmu dari padaku
tidak juga maut yang memisahkan dunia kita...
Papi, terimalah kerinduan saya
yang terbalut dalam doa dan air mata
Kau yang sudah menghantarkan aku mengenal Bapa di Sorga..
Thanks papi... Engkau sudah mengajarkan banyak sekali pelajaran hidup padaku
Aku tetap merindukan hadirmu dalam tiap perjuangan saya menuju Sorga
I Love You Papi...
(Denpasar, 20 Agustus 2010.. ku persembahkan untuk dia yang selalu menyayangiku sampai pada akhirnya)
Aku suka jalan pagi..
Dan hampir setiap pagi aku melakoninya..
Di seputaran lapangan renon..
sambil menggengam Rosario-ku..
Mulut-ku komat-kamit mendarasakan doa hati...
untuk semua orang yang terkasih...
Kadang mataku memandang ke langit...
Ke awan gemawang...
Ke puncuk-puncuk rindangnya dedaunan..
mereka semua mengalunkan doa yang sama..
untuk sebuah pertumbuhan jiwa..
sebuah hati yang merindukan kebebasan sejati...
Kadang-kadang aku mengintip di balik Rosario...
seliweran orang berjalan...
Ada yang rambutnya tergerai dengan dandanan menor..
dengan baju sporty yang sexy ala agnes monica...
tak peduli usia sudah separuh baya...
Jalannya melenggak-lenggok bagaikan di atas catwalk...
membuat banyak orang menoleh dengan mata jalang...
Ada sejoli yang berjalan beriring dengan tubuh
yang memancarkan aura cinta yang mekar...
Banyak pula atlit dengan otot dan keperkasaan badan sedang melatih diri
Tak sedikit pula keluarga muda dengan kebahagiaan yang memancar sambil menuntun kaki mungil berjalan dan berlarian dengan yang lain
Semuanya sibuk dengan 'coretan'nya sendiri
mengejar hari dan keceriaan jiwa...
Di balik untaian rosarioku
aku belajar banyak
aku menyerap banyak
akan makna kehidupan, kegembiraan dan cinta
dengan polesan kesederhanaan langkah
Andaikan semua orang tahu
kebahagiaan tidak sama dengan gemerlapnya sebuah mobil mewah
tidak sama dengan nyamannya sebuah keromantisan Eropah
tidak sama pula dengan sebuah acara pesta bertaburan parfum...
Di ujung lapangan rumput
ada sejumlah siswa tertawa lepas dengan kaos olahraganya yang penuh lumpur
Di ujung lapangan rumput..
Ada sejumlah lelaki berambut putih jongkok sambil memakan semangkuk hangat bubur ayam-nya
dengan bilasan tawa canda
Diujung lapangan rumput..
Ada ketenangan wajah dengan nafas teratur
melenturkan tubuhnya mengikuti irama yoga
di ujung lapangan rumput...
ada sekelompok bintara berlatih kekompakan kebersamaan
Duka, dimana sengatmu?
engkau hanya bisa menyerang orang yang tidak puas dengan kesederhanaan sebuah suka cita
engkau hanya bisa menyerang orang yang tidak mencari kesehatan jiwa
Aku menyukai sekolah pagi-ku ini
Sekolah dibalik untaian rosario-ku
bila aku sedang bersekolah seperti ini
aku bisa merasakan semua kasih Tuhan terhadap setiap orang
dan kasih itulah yang menumbuhkan aku untuk semakin mencintai sesamaku
entah dia yang suka berdandan menor
entah dia yang selalu mengudap dimana-mana
entah dia yang mesti teriak-teriak melepaskan gojalak resahnya...
bila aku sedang bersekolah seperti ini
aku ingin hidup lebih lama
karena hanya kegembiraan batin yang membuncah
di balik keringat ku yang membasahi training pack-ku
Tuhan andaikan semua orang bisa bersekolah seperti-ku
alangkah dalamnya hidup dan keindahannya...
dan aku pun berdoa untuk mereka...
Amin.
(Denpasar, 21 Agustus 2010... disaat aku mengalami nikmatnya bersahabat dengan derunya alam)
Bila aura negatif ini muncul...
betapa susahnya untuk menuntun hati melihat kebesaran Tuhan...
Bila kebencian ini hadir...
Betapa susahnya saya membaca kesungguhanmu saat menangis menyesal
Bila seluruh tubuh ini bergetar...
Betapa susahnya untuk melahirkan karya...
Semuanya seperti mampat dan tersumbat
di sebuah lubang tanpa batas...
Orang tidak mengerti...
Dan hanya bisa bersumbar tentang kebenaran...
dan aku tidak membutuhkan kebenaran itu..
Aku butuh ketulusan bukan kebenaran...
Aku butuh kasih tanpa kepura-puraan...
sebuah pengertian akan waktu untuk menyembuhkan luka
bukan sebuah pameran di tempat terbuka sambil tertawa dan bertatapan
Aaah setiap kali mengingat gambar itu
hanya sebuah kebencian yang membuncah
hanya sebuah kesakitan yang menyerang seluruh sendi...
Andai saja saya tidak pernah berkenalan denganmu
apalagi memberikan tempat di hatiku
Kau boleh tersenyum dan mengatakan sejuta kasih padaku
Kau boleh menjadi indah dihadapan sebuah pameran kehidupan
Kau boleh menjadi hebat dengan airmatamu yang jatuh di pangkuanku
Dan kau boleh puas dengan tawa bahagia yang kau pamerkan
Atau kau boleh merasakan 'menang' atas sebuah drama yang kau susun
Aku akan tetap berjuang..
Meraih hidupku sendiri..
Kalau aku terluka dan terpecah seperti saat ini
Aku tahu aku masih punya waktu untuk berbenah
Mengumpulkan serpihan-serpihan ini
Kalau memang sakit ini harus tergores lagi
biarlah menjadi pelajaran berharga akan sebuah kasih yang terkoyak
Aku tidak butuh mata yang menatap iba melihat aku terseok-seok kesakitan
Aku juga tidak butuh senyum yang mengejek karena sebuah kejatuhan
apalagi tepuk tangan yang gegap gempita...
Aku masih belum kalah...
Aku masih punya waktu untuk berjuang..
untuk menjadikan hidupku kembali tegak
Aku tidak butuh senyum kepuasanmu yang merasa menang
Aku juga tidak peduli kalau kau mengulangi lagi perkataanmu
bahwa kau akan mendapatkan apa saja yang kamu mau...
Aku akan melawanmu...
Aku akan menghadapimu
aku tidak akan menjadi orang bodoh yang mau saja kau kelabuhi dengan janji...
Dan aku tidak butuh lagi janji-janjimu...
Aku tahu gambar itu tidak akan terhapus dari hatiku
Aku tahu aku butuh waktu untuk menghentikan darah di lukaku
Tapi aku percaya aku punya Tuhan yang besar
Aku percaya Dia tidak akan bosan menolongku
yang terjatuh saat belajar...
Tuhan ajari aku untuk bisa melupakan apa yang aku lihat
Beri aku kekuatan dan kemampuan-Mu Tuhan
Dan aku akan sabar walaupun aku harus mengulang lagi sampai delapan tahun seperti proses yang lalu
Aku akan sembuh kembali dan bisa berkarya dengan baik tanpa gambar itu lagi
(Denpasar, 23 Agustus 2010 yang tercecer diantara puluhan coretan ngawur)
Ketika aku melihat kerlipmu..
Aku tahu ada harapan disana…
Ketika aku melihat senyummu dibalik kegelapan malam…
Aku tahu ada cinta Tuhan disana…
Aku suka seperti ini bintangku…
Hanya berdua saja dengan-mu…
Menembus-i gelap malam dengan desahan nafas yang ber-embun…
Aku sungguh suka bersama engkau bintangku…
Merapat bersama dinginnya malam…
Mendengarkan suara nyanyian binatang malam..
Merentas kesunyian total menyatu dalam helaan nafas Tuhan..
Aah bintang-ku…
Betapa engkau sudah mengisahkan begitu banyak keindahan cinta…
Yang ada dan yang tercecer di perbukitan ini…
Tempat doa berkanjang dalam bisu…
Tempat keindahan berpagut dengan dinginnya malam…
Aku suka duduk disini…
Di tangga kapela berdinding batu…
Sendiri tanpa kegelisahan…
Bercengkerama bersama kerlipmu yang memancarkan terang…
Andai Kekasih-ku ada disini..
Mungkin aku dapat meletakkan kepala-ku pada bahuNya yang bidang..
Bermain dalam kebisuan malam tanpa kata…
Dan aku dapat mendengarkan degup jantungNya…
Yang membisikkan “Selamat Ulang tahun sayang…”
“Senyuman bintang malam ini adalah hadiah-Ku untuk-mu” BisikNya lagi untuk-ku
Aah… Kekasihku, aku semakin merindukanMu…
Yang selalu memberikan cinta yang tak berujung padaku…
Dan aku tahu, saat ini, disini…
Hanya ada Engkau, aku dan bintang yang berpijar…
(Pertapaan Gedono, 27 Agustus 2010… Dalam luapan Kasih Tuhan..)
Banyak orang mengatakan aku sangat cantik di foto itu..
Banyak orang mengatakan senyumku sangat indah dalam foto itu...
Banyak orang mengatakan wajahku memancarkan cinta di gambar itu..
Engkau tahu mengapa?
Karena tepat di hari ulang tahunku itu..
Aku dikelilingi oleh orang-orang yang mengasihiku..
Karena tepat di hari ulang tahunku itu..
Ada banyak doa yang dibalutkan padaku..
Ada banyak salam yang dikirimkan padaku..
Ada banyak cinta yang dipancarkan untukku...
Dalam kehadiran mereka di dalam hatiku secara nyata
meskipun fisik mereka tidak dapat menjangkau-ku
Dan terlebih lagi..
Dalam rangkaian persiapan ulang tahunku itu..
Aku mengalami Tuhan menyapa aku secara khusus dan istimewa..
Dalam tirakat dan doa dalam retret-ku
dalam kapael berdinding batu di sebuah puncak Gunung..
Aku mengalami cinta Tuhan yang mendalam padaku...
Terimakasih Tuhan untuk tanda cinta-MU yang besar ini...
Terimakasih Teman untuk ketulusanmu yang bening padaku
Terimakasih semuanya untuk kasih yang kalian taburkan dalam hidupku
Setiap melihat semua foto-foto itu aku tersenyum bahagia..
Setiap kali melihat foto itu aku menangis terharu..
betapa Tuhan sudah begitu mencintai-ku
Semua tergambar jelas.. meskipun banyak moment sesudahnya
bersama orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku yang tidak terfoto
yang tidak tertangkap oleh kamera..
Tapi semuanya itu sudah menjadi satu yang terwakili oleh gambar-gambar itu dalam hati dalam jiwaku..
Foto-foto ni sangat berarti bagiku Tuhan.. Terimakasih
Sekali lagi terimakasih sahabat-sahabat ku
yang sudah melimpahi segudang kebahagiaan padaku..
Terimakasih saudara-saudara dan anak-anakku
yang sudah membuncah-i cinta sepenuh-penuhnya dalam jiwa ragaku
terimakasih banyak Tuhan...
Bingkai kebahagiaan dua hari ini akan menjadi frame dalam hidupku secara penuh..
CintaMU Tuhan melebihi hidup..
Nikmat MU Tuhan melebihi air madu lebah murni...
Kebahagiaan yang Kau berikan padaku
Lebih dari apa yang bisa saya berikan padaMU
I Love You Lord...
Denpasar, 2 September 2010
dengan airmata menetes di mataku
Aku senang diam disini..
Menatap lalu-lalang orang yang sedang bersukacita..
Tersenyum dengan kiriman foto terbaru-nya..
Bahagia dengan status di dindingnya...
Aku senang berdiam disini...
melihat lalu-lalang sebuah keakraban para sahabat
yang bercengkerama, berbagi cerita, berbagi getaran...
yang meski kadang tidak nyaman untuk yang lain..
Aku senang tegak disini...
Menatap sejumput intrik
yang kadang terselip di tengah-tengahnya nafas yang memburu...
Aku suka tetap tegar disini...
sampai matahari merayap menapaki pintunya..
Sampai rembulan berbaring di buaian angin malam..
Sampai ruang kosong-ku terisi penuh oleh cinta...
Aku ingin tetap membuka hatiku disini..
tempat dimana semua cinta menyatu...
Tempat dimana sejuta maaf berkidung..
Tempat dimana aku selalu dapat membuat Tuhan tersenyum...
Disini...
Ada sejuta makna..
yang bergelut dengan sejuta perjuangan cinta dan pengampunan
Dan aku...?
Sungguh S u k a d i s i n i...
(Denpasar, 4 September 2010... ditengah aku berada di beranda FB-ku)
Libur Lebaran
Mbak pada mudik
Ternyata menjadi seorang ibu rumah tangga
jauh dari kata 'Mudah'
ada tetes keringat di sekujur tubuh
menyiapkan sarapan pagi, hidangan siang dan malam
juga ada senyum kecil..
disaat menjemur baju yang baru keluar dari mesin cuci
Dan ada senandung kecil dikala menyetrika baju..
diiringi lagu-lagu cinta
Terima kasih Tuhan..
Engkau memberiku kesempatan
untuk menjadi cinta dalam sebuah kedalaman relasi
tanpa tuntutan, tanpa harapan apapun..
waktukupun berlebih banyak..
masih dapat ku bagikan untuk orang-orang di sekitarku
untuk pekerjaan dan paroki ku juga
untuk anak-anak yang membutuhkan bentuk pemikiranku
Senyumku pun berlebih banyak..
untuk orang-orang yang berbeban berat
untuk anak-anak yang kurang mendapatkan senyum di luar-luar sana
Disini masih ku siapkan segudang cinta untuk mereka
untuk semua tangan yang terulur padaku
Tuhan berkatilah persembahanku..
Terima kasih untuk waktuku yang selalu Kau lebihkan
Selamat Libur lebaran teman..
Ada kebahagiaan yang menggantung
di tengah seribu senyum kebersamaan...
ALLAH HU AKBAR.........
(coretan iseng, dikala Tuhan menyapa)
Denpasar, 04 Nopember 2005
Linda Wahjudi
Aku suka diri-ku dalam bingkai persahabatan...
Aku suka diri-ku dalam segala keterbatasanku...
Aku tetap beranikan diri untuk mengulurkan tangan pada setiap hati...
Meski-pun ada banyak penolakan juga yang ku terima...
Paling-paling aku hanya merasakan perih sesaat...
dan segera ku kecap dan ketelan dengan rasa syukur..
bahwa aku sudah meluaskan hati-ku se-inci...
Aku suka melihat diri-ku dalam binar mata orang...
khususnya mata bening seorang anak..
dan mata lelah seorang kakek dan nenek...
Aku suka bersahabat dengan mereka..
Karena aku menemukan cinta yang besar dalam kerlip matanya...
Aku suka melihat diri-ku dalam kepolosan dan kebeningan jiwa
yang aku miliki dan yang bisa dibaca setiap orang...
Aku suka melihat diri-ku dalam pangkuan Bapa-ku...
mendengarkan komentar setiap orang yang 'membaca' jiwa-ku
Sebagian orang ingin aku menutupi sebagian jiwa-ku...
agar aku tetap menjadi Linda seorang yang dikasihi-nya..
agar mereka tidak perlu melihat sisi gelap-ku, luka-luka-ku, aib-aib-ku...
Sebagian orang, memelukku... memberi support padaku
dan mengatakan "Aku semakin mengerti perjuanganmu..."
Ketika aku mendengar setiap penilaian orang tentang aku...
Aku berpaling menatap wajah Bapa-ku yang tengah memangku-ku
Aku mencari bola mata-NYA untuk melihat, IA berkata apa padaku?
Di bola mata itu, hanya ku temukan kerlip yang dalam...
Di bola mata itu, hanya ku temukan cinta yang tak berujung...
Di bola mata itu, aku melihat gambarku yang tersenyum dan tersimpan cantik...
Bapa... ketika aku menemukan itu...
aku tahu, betapa istimewanya aku di hati-MU
untuk menjadi seorang pemimpin, aku tidak harus menjadi orang lain
Untuk menjadi orang yang dikasihi, aku tidak harus selalu nampak baik
Untuk menjadi orang yang diterima. aku tidak harus mengubah diriku menjadi seperti kata orang..
Bapa, thanks ya untuk kerlip mata-Mu..
Bapa, Thanks ya untuk untaian ampun tanpa kata yang kau senandungkan di mata-Mu
Bapa, thanks ya untuk penerimaan diri-Mu padaku...
(Denpasar, 13 September 2010)
untuk semua orang yang ku kenal, Terimakasih, kalian sudah menumbuhkanku
Aku mengatakan 'Aku adalah seorang wanita yang tegar'
walau-pun ada kegentaran di setiap langkah-ku
Aku mengatakan 'Aku adalah wanita yang dilimpahi selaksa bahagia'
walau-pun setiap malam ada air mata di ranjangku...
Aku mengatakan 'Aku adalah seorang wanita pemberani'
Walau-pun ada sejuta ketakutan di jiwa-ku...
Ketegaran yang sejati terletak pada langkah-ku yang tak pernah surut memapah anak-anak-ku sampai kepada mimpi Tuhan
Kebahagia yang sejati terletak pada setiap kata syukur yang teruntai memenuhi sanubari-ku
Keberanian yang sejati terletak pada lutut-ku yang bertelut mencari DIA
Ingin kupahatkan harapan itu tanpa akhir...
pada dinding hatiku...
pada sinap-sinap di otak-ku
Agar aku tetap berjalan meskipun langkah ini goyah...
Agar aku tetap tersenyum walau-pun ada perih yang menetes di hati-ku
Agar aku tetap bekerja, walau-pun tidak terlihat hasil...
Aku akan tetap datang pada-MU Tuhan
dengan cinta yang bergelora
Aku akan tetap mencari wajah-MU ya Tuhan
dengan tekad yang membaja
Dan aku tahu ada senyum dan kebahagiaan yang sudah KAU sediakan secara khusus bagi-ku
Dan itulah mimpi-ku bersama-MU
(Denpasar, 14 September 2010)
Dikala ada kelesuan di jalan-ku
Hadiah-Mu adalah senyum buat-ku
yang kadang harus ku dapatkan melalui perjuangan keras
Hadiah-Mu terkadang samar, hadir dan lenyap seperti embun
membuatku mesti menatap-Mu lama untuk memastikannya
Hadiah-Mu selalu datang tanpa aku mengerti..
tak kulihat pintu tempat ia masuk...
Hadiah-Mu itu selalu membuat seluruh tubuhku bergetar
menyumbat teriakkan syukur-ku pada-Mu
Hadiah-Mu selalu melekat harum di seluruh nafas jiwa-ku
Membuat-ku mampu melenggok di kerumunan orang hebat
Hadiah-Mu adalah jiwa-Mu, cinta-Mu..
yang selalu membuat-ku luruh menyatu di dalamnya
Hadiah-Mu membuat-ku tegak berdiri..
indah...
cantik...
tanpa polesan...
tanpa wewangian...
dan Hadiah-Mu itu selalu membuat-ku bisa tersenyum
dan memandang lekat pada-Mu...
(Denpasar, 21 September 2010)
Di saat aku memandang pada-Mu dan merasakan bahagia...
Aku tahu ketika aku tersenyum
engkau-pun tersenyum
karena bahagia-ku adalah bahagia-mu juga...
Aku tahu ketika aku menangis
engkau-pun menangis bersama-ku
berusaha menemani-ku sepanjang waktu berharga-mu
Aku tahu ketika aku susah
kau ulurkan tangan-mu pada-ku
kau berjuang semampu-mu untuk menolong-ku
karena sayang-mu pada-ku tanpa hitungan angka
Aku tahu ketika aku takut...
engkau menyediakan badan-mu untuk menjadi batukarang-ku
dengan segala keterbatasan-mu
engkau menahan hempasan gelombang itu untuk-ku
Sayang-mu adalah sayatan hati-mu
yang kau berikan pada-ku
Sayang-mu adalah pendaran kilau mata-mu
tanpa kata-kata
tanpa batasan ruang dan waktu
Sayang-mu adalah luapan cinta Tuhan
yang hanya berisi pemberian diri
dan selalu menerangi hari-hariku
langkah-langkah-ku
Dan sayang-mu itu selalu ada di dalam jiwa-ku
sampai aku membawanya ke Sorga
dan menyerahkan kepada Allah Bapa-ku disana
(Denpasar, 21 September 2010)
Thanks untuk sayang-mu yang menghidupi-ku
Kalau kamu mengatakan,
'Mengapa banyak yang menilai saya tidak sesuai dengan yang kamu tahu tentang saya?"
Saya hanya mengatakan,
'Mungkin mereka merasa lebih baik dengan menilai
atau mungkin mereka sangat mengasihi saya dan mengharapakan saya bisa lebih baik dari yang mereka lihat'
Kalau kamu mengatakan,
'Kamu kasihan melihat saya dinilai seperti itu'
Saya hanya mengatakan,
'Setulus-tulusnya saya justru sangat berterimakasih kepada mereka semua,
mereka-lah yang selalu membuat saya selalu berjuang untuk bisa lebih baik'
Kalau kamu mengatakan,
'Kamu mengagumi ketegaran saya'
Saya hanya mengatakan,
'Ketegaran saya hanya karena Tuhan yang
selalu memberikan tempat pada airmata saya menetes di hati-Nya'
Kalau kamu mengatakan,
'Kamu ingin saya tetap melanjutkan perjuangan saya di jalan yang sepi ini'
Saya hanya bisa mengatakan,
'Saya tidak tahu sampai kapan,
hanya satu yang saya tahu Tuhan begitu mencintai saya lebih dari yang lain
Dan saya yakin DIA tidak akan membiarkan saya sendirian
Dia selalu kirim-kan malaikat-Nya untuk beriringan dengan saya'
Kalau kamu mengatakan,
'Kamu akan selalu mendoakan saya'
Saya mengatakan,
"Terimakasih, itulah yang paling saya butuhkan'
Sahabat terimakasih untuk empaty-mu pada-ku
Biarlah ini menjadi harapan dan doa
untuk sebuah keterbatasan seorang anak manusia dalam pergulatan hidupnya
Tuhan yang menciptakan
Tuhan yang memelihara
Terpujilah Dia...
Denpasar, 22 September 2010
untuk mbak HP yang semalam sudah mengungkapkan kegalauan hatinya...
Asmara adalah pancaran siluet dari Surga
yang gema-nya membahana di ujung-ujung jiwa
Asmara adalah suara yang melengking dari ufuk langit
yang meggetarkan dawai-dawai keletihan hati...
Asmara adalah aroma teraphy dari sang Alam..
yang semerbak-nya mampu menghisap sukma...
Asmara, membuat sebuah keindahan yang berwarna...
yang memancarkan keharuman di setiap pori tubuh-ku
yang membius seluruh detak nadi-ku
Asmara membuatku tergulung dalam kenikmatan asa...
yang buncahan-nya menggeleparkan seluruh tubuh-ku
Asmara memenuhi jiwa insani...
menyemarakkan dunia dan ke-alpha-annya
Asmara melumpuhkan Sang pahlawan
dan menyerak-kan Sang pejuang
gemetar melintas-i sebuah jalan yang tak mudah...
Asmara adalah dentingan nyanyian Surga
yang mampu menghidupkan sebuah kematian...
Asmara adalah satire Sang Pencinta..
yang mampu menggugah keberadaan Sang putri dalam tidur panjangnya..
Asmara adalah kebisuan hati-mu dan hati-ku...
yang gelombangnya sudah sampai ke Surga...
Denpasar, 25 September 2010
ditengah dentingan nyanyian Sorga...
Ketika kegelisahan itu engkau tekan dalam-dalam di nadi-mu
Ketika almarah itu engkau balut dengan sejumput senyum di dadamu
Ketika getir kebencian itu kau telan hidup-hidup
dan ketika ego-mu kau biarkan meluap membuncah di getaran jantung-mu
Engkau mengira, engkau sudah berbahagia diantara taburan tawa-mu...
Engkau mengira, engkau puas diantara sejuta karya-mu yang kau jejak-kan
Engkau mengira, engkau menang diantara sejuta relasi yang kau ukir...
Bercerminan pada alam, maka engkau akan tahu jawabnya...
Bercerminlah pada bintang, maka engkau akan tahu kidungan-nya
Bermainlah dengan ombak, maka engkau akan tahu senyuman sejati-mu
Jalan damai itu adalah kesejatian
dimana ada seribu kehangatan disana
yang akan membuat jiwamu selalu tentram
Jalan damai itu tanpa kepalsuan
dimana ada sejuta keindahan Sang Khalik
yang akan membuatmu tidak lagi mampu diombang-ambingkan dunia
Jalan damai hanya ditempuh oleh seorang pejuang
yang berani mencabik hatinya sendiri dan memberikannya pada 'sang musuh'
dengan senyum ketegaran
Bila jalan damai itu sudah menjadi milikmu
tidak akan ada lagi ada keinginan untuk menang dan dimenangkan
tidak ada lagi keinginan dia harus 'lenyap' dari keberadaan diri
Bila jalan damai itu sudah menjadi milikmu
yang ada hanyalah wewangian Surga di setiap nafasmu
yang membuatmu senantiasa menaburkan ketentraman jiwa
pada setiap rongga kehidupan
Jalan Damai itu adalah milik Sang Surya
Jalan damai itu adalah milik sang Bayu
Jalan damai itu adalah milik Sang empunya Surga
dan jalan damai itu adalah milikmu
bila engkau mau berjalan bersama mereka.
Denpasar, 26 September 2010
Aku suka menemukannya..